Senin, 25 Mei 2009

PUISI-PUISI SULAIMAN JUNED

Karya: Sulaiman Juned


TARIAN BULAN

langit menangis
renyah. Galau bulan
mandi di danau. Gerimis menari-nari
angin jalang memekatkan jiwa
rupa hilang dalam kelam waktu.

langit menangis
rinai .Risau bulan
mengeram di danau. Tarian sukma
memabukkan bintang selepas bertarung menempuh
badai, aku sempatkan menjenguk rumah
(Tuhan, senyap-sepi dalam keramaian)

-Malalo, 2009-



Karya: Sulaiman Juned

SEBUT SAJA NAMAKU; MAWAR

terlambat
mengeja tasbih di bibir
angkuh. Menyekap jejak tubuh
zikir-pikir meluruh.

terlambat
mengeja jiwa terluka di ujung
bulan. Kemana sembunyikan getir
durinya tertancap kulit-daging-hati.

terlambat
mengeja namamu. Aku sebut saja
mawar biar sempurna segala kisah.

-Padangpanjang, 2009-



Karya: Sulaiman Juned
DEBU BULAN

ah!
menempel debu di jiwa.

-Padangpanjang, 2009-



Sulaiman Juned

JIKA AIR BERUMAH DI PASIE LAWEH

jika air berumah
di kampung- di pasar- di sawah- di ladang langit menangis
renyah. Galau bulan mandi galodo. Gerimis
menari-nari angin jalang memekatkan jiwa
rupa hilang dalam kelam waktu.

jika air berumah
di rumah gadang- di toko- di mushalla-di masjid langit menangis
rinai .Matahari risau mengeram galodo. Tarian sukma
memabukkannya selepas bertarung menempuh badai.

jika air berumah
di jiwa. Salak srigala dan kicau burung
membunuh bintang-turun ke nurani jadi galodo
kitapun hanya mampu berumah dipikiran
tentang kisah getir Pasie Laweh barangkali ada yang mengetuk pintu
mengurung ombak di dada menghamburkan luka. Kenapa kita
lupa pada cuaca putih mengelus hati meluruh. Kenapa kita
tinggalkan awan putih mengantar rindu ke pintu surga. Kenapa kita
lupa pada air bersemanyam di kalbu mengantar rindu pada-Mu ya Rabbi.

jika air berumah
di gelung hati sedang di luar kabut mengental. Menyusup nadi
bergantung di pucuk daun. Mengurung samudera pikiran
kemana tuangkan duka tumpahkan gelisah
O, hati yang resah bersabarlah
pucuk angin pasti membelai dada
O, hati yang gundah bersabarlah
matahari pasti singgah digubuk kita
O, hati yang gulita bersabarlah
sebentar lagi sabit pasti purnama
menjemput segala senyum di kening bulan.
Aku sempatkan menjenguk rumah yang Kau rubah jadi galodo
kusaksikan tuhan tersenyum getir dalam senyap-sepi keramaian.

Batusangkar, 31 Maret 2009

Catatan:1.Galodo (bahasa Minang = Longsor) Bencana itu terjadi pada hari Senin
tanggal 30 Maret 2009, di Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. 2. Pasie Laweh = Nama desa yang terparah terkena bencana tersebut.




Karya: Sulaiman Juned

LADANG BATU

terlambat
mengeja tasbih di bibir
angkuh. Menyekap jejak tubuh
zikir-pikir meluruh Balai Losa berladang batu

terlambat
mengeja jiwa terluka di ujung
bulan. Kemana sembunyikan getir
durinya tertancap kulit-daging-hati rakyat PasieLaweh
Balai Losa jadi ladang batu-air dan lumpur.


terlambat
mengeja nama-Mu. Saksikan Balai Losa jadi ladang batu
pekik-tangis menyatu dalam gemuruh lahar dingin merapi
aku hanya mampu mengantar mawar biar sempurna segala kisah
Itulah kami ya Allah yang angkuh dan pongah
sering lupa jika sedang dirundung bahagia
hilang ingat jika sedang berpesta. Tak tahu diri
jika sedang berkuasa alpa melaut di sajadah
menjenguk wajah-Mu. Sekali lagi maafkanlah
(kita hanya debu ditelunjuk Alllah ya Allah).

Batusangkar, 5 April 2009


Catatan: Balai Losa (Bahasa Minang = Pekan Selasa).
Merupakan sebuah pasar tradisional yang berada di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar yang sekarang di timbun oleh pasca longsor.

0 komentar: