PADANGPANJANG-SUMATERA BARAT
Sekretariat: Jln. Bundo kanduang No.35 Padangpanjang HP.081393286671 Email:sjdoesy@gmail.com

Sabtu, 13 September 2008

Minangkabau Simfoni Orkestra:

Dipersimpangan Jalan, Hidup Segan Mati tak Mau

Oleh: Sulaiman Juned *)


Minangkabau Simfoni Orkestra, bagi masyarakat Sumatera sudah tak asing lagi, apalagi bagi masyarakat Sumatera Barat. Orkestra ini didirikan pada desember 2006. Orkestra cikal bakal dari nama-nama besar Orkestra sebelumnya yang tumbuh di Ranah Minang sejak tahun 1985 seperti, Orkes Simfoni Bukittinggi, Orkes Simfoni Padang, Orkes Simfoni Sumatera Barat, dan Orkes Simfoni Ranah Minang. Seluruh personil Orkes merupakan mahasiswa, alumni dan dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang.

Pertunjukan komposisi musik dalam sebuah Orkestra sangat ditentukan oleh aranger, conductor, concert master, principle, solist, player. Ini merupakan masyarakat orkses yang paling berpengaruh terhadap suksesnya pertunjukan tersebut. Manajemen pertunjukan juga memegang peranan yang tidak kalah pentingnya, manajemen produksi sudah semestinya jadi perhatian khusus. Tanpa manajemen yang bersih, jujur, terbuka tentu tak akan mampu menggerakkan sebuah pertujukan yang berisi pengelolaan terhadap manusianya. Atas dasar itu, pertunjukan yang luar biasa akan didukung oleh manajemen yang luar biasa pula, maka muaranya adalah pertunjukan yang berkualitas.

Berada dalam wilayah Orkestra, maka yang paling berkuasa adalah conductor, ia pemimpin pada pertunjukan musik, penerjemah, pelatih yang dapat mengetahui psikologi para pemainnya sehingga dapat bekerjasama dengan baik. Sekaligus seorang conductor tentunya dianggap sebagai ilmuan yang mampu mentransfer ilmu baik secara teoritis maupun praktis kepada seluruh mitra kerjanya (pendukung orkestra).

(Minggu, 18/5/08), di lapangan Kantin Kota Bukittinggi dilakukan Konser Musik 2008 bertajuk 100 tahun Kebangkitan Nasional. Malam itu orkes dipimpin oleh Marta Rosa dengan lagu pembuka Metalica yang diaransemen oleh Diansyah Putra. Metalica sebagai model, bahwasannya Orkes Simfoni mampu memainkan lagu-lagu pop, rock, jazz, dan bahkan dangdut. Besik dasar tetap klasik dalam penguasaan aransemen dan orkestrasi, Tutur Marta Rosa usai pertunjukan.

Selanjutnya Minangkabau Simfoni Orkestra tampil dalam lagu-lagu populer dengan menampilkan penyanyi Sumatera Barat diantaranya; Andi Adam, Soniya, Jaks Surya, Fani Vabiola yang masing menyanyikan tiga lagu. Sedang Helena (Idol) muncul dengan menyanyikan lagu Sempurna, Munajat Cinta, Karena Cinta, Ingat Kamu dan terakhir membawakan lagu minang yang berjudul ‘Pulang Lah Uda’. Materi-materi lagu seperti ini dengan mudah dapat dinikmati dan disuguhkan dengan baik oleh seluruh pendukung. Ini bukanlah suatu prestasi yang gemilang, sebuah orkes simfoni yang telah berpengalaman hanya bermain dalam kancah lagu populer. Menurut Suka Harjana dalam Wilma Sriwulan, “Orkes Simfoni yang tertua di Indonesia adalah Orkes Simfoni di Sumatera Barat’ (2000:68). Orkes yang tertua di Indonesia dalam perkembangannya tidak mampu mengangkat dan mengolah musik klasik standar. Selayaknya konser dalam malam 100 tahun kebangkitan nasional, Minangkabau Simfoni Orkestra tidak melulu mengangkat lagu-lagu populer, seharusnya ada tiga atau empat lagu klasik standar atau mengaransemen lagu-lagu tradisional melayu untuk dimainkan. Jika tidak ada lagu klasik standar yang dimainkan maka Minangkabau Simfoni Orkestra berada dipersimpangan jalan. Tak tahu arah untuk di tuju, padahal sangat jelas bahwasannya sebuah komunitas orkes tidak melulu mengejar selera pasar, boleh jadi agar tidak membosankan diselipkan satu, dua, tiga atau empat lagu-lagu populer untuk dapat masuk ke wilayah dunia anak muda yang seleranya ngeband .

Ada rasa bangga dan bahagia ketika menyaksikan alat musik klasik yang tersusun di atas panggung. Namun renyuh juga ketika bunyi yang keluar bukan musik klasik standar malahan lagu pop Indonesia. Konser Musik 2008 di Bukittinggi, rindu mencekam terhadap aransemen baru dari aranger muda terhadap lagu klasik standar. Rindu beberapa orang penonton tak terobati oleh Minangkabau Simfoni Orkestra. “Aku kecewa terhadap pertunjukan musik yang katanya berlabel Minangkabau Simfoni Orkestra, dalam bayangan saya akan ternikmati pertunjukan musik klasik standar atau minimal lagu-lagu tradisional Melayu yang diaransemen ulang, namun sampai di lapangan kantin malah saya menonton lagu-lagu pop, kalau lagu seperti itu lebih baik saya putar VCD saja di rumah” Ungkap Mahdiansyah salah seorang penonton yang diwawancarai di lokasi peretunjukan. Jadi Minangkabau Simfoni Orkestra tidak berani bertahan hidup dengan musik-musik klasik standar atau lagu tradisi Melayu, tetap ingin mengikuti selera pasar, maka musik di Sumatera Barat tetap saja “laksana kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau’. Andaikan dua saja aransemen klasik standar dilakukan, banyak penonton bertahan sampai larut malam untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

Ah! Kita sedang berada di ujung tanduk ketakberdayaan, idealisme seorang seniman dapat digulingkan atas nama ‘selera pasar’ sungguh memprihatinkan. Apakah harus kita ombral murah selembar harga diri kesenimanan untuk dapat bersanding di sebuah kampung bernama ‘terkenal’. Silakan, segalanya kembali kepada individualisme seorang seniman.

Selamat walau terkurang atawa lebih, hanya kita yang membaca dan berkaca. Semoga kita tak bercermin pada kaca yang terbelah. Begitulah seharusnya seniman.

*) Penulis adalah penyair, Sutradara dan Pimpinan Komunitas Seni Kuflet

Padangpanjang, juga Dosen Teater STSI Padangpanjang.

ESTETIKA SENI RUPA ACEH TAK KERING DIGALI

Catatan ekspresi ‘kande’ Mahruzal seniman muda Aceh di Padangpanjang

Oleh: Sulaiman Juned *)

//….kaulah kandil kemerlap/pelita dimalam gelap…//.

Sengaja di petik larik di atas dari puisi karya sang Raja pujangga besar Indonesia yang hidupnya berakhir karena peperangan di Langkat. Putra Mahkota Kerajaan Langkat dari tanah Melayu ini mempopulerkan kata ‘kandil’, tak banyak orang tahu bahwa istilah kande telah di pakai sang maestro Amir Hamzah, penyair yang menjadi pelopor pujangga baru itu sebagai penggambaran kata terhadap sesuatu yang indah memancarkan cahaya. Kandil itu lampu yang memakai sumbu dan tak disemua jazirah melayu disebut demikian. Ada yang menyebut dama, (Minang dan sebagian Jambi), damar (Riau) atau lampu minyak. Lantas dari mana kata ‘kandil’ didapat Chairil sang pujangga itu? Lihatlah Melayu yang pernah jaya dimasa Samudera Pasai merajai lautan dan kepulauan nusantara. Inilah zaman kandil menjadi sesuatu yang penting. Inilah Kande, yang kemudian Melayu serantau menyebutnya kandil.

Terlepas sengaja atau tidak, ternyata Amir Hamzah telah kenal dengan kande jauh sebelum Rafli dan grup Bandnya memperkenalkan benda ini kepada seluruh orang Melayu. Kandi misalnya, di masyarakat Tabir Hulu Jambi, adalah lampu gantung yang terbuat dari tembaga yang kini hampir punah sejak ada listrik. Mari kita telisik perbedaan kandi, kandil, dama, damar dan lampu minyak dengan Kande. Kande lebih estetik dan rumit. Itu saja, selebihnya sama, sama-sama berfungsi sebagai penerang malam dengan bahan bakar Minyak kelapa.

Kande lampu Minyak yang berasal dari Aceh terbuat dari tembaga, dicetak dengan tekstur unik. Berhias motif khas, dengan empat elemen utama. (1) tempat minyak, bulat pipih, (2) sumbu melingkar disekeliling berbentuk runcing, ada yang lima sumbu, tujuh atau sembilan sumbu, (3) tangkai berbentuk seperti gerbang yang berdiri di atas lingkar tempat minyak,(4) Tempat menggantungkan, berbentuk lingkaran bulat di puncak tangkai, sekeliling dihiasi dengan ornamen timbul yang indah. Selain saudaranya yang disebut di atas ada lampu lain yang disebut blencong dari Jawa Timur atau banyak lagi ditempat lain yang merupakan kekayaan seni rupa yang tak akan habis digali estetikanya.

Kekayaan estetik ini digali oleh Mahruzal, seorang seniman muda asal Aceh yang bereksplorasi di Padangpanjang bersama Komunitas Seni Kuflet. Pameran pertengahan Mei lalu di Gedung Hoerijah Adam Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, ia memajang karya “lampu minyaknya” yang unik. Ya, memang lampu minyak, sebuah ide yang cukup ‘aneh’ ditengah zaman digital yang serba listrik ini. Di tambah lagi lampu minyak Mahruzal ini bukan dari logam tapi dari kayu nangka. Dibalik itu semua karya Mahruzal yang terinspirasi dari ‘kande sebagai ekspresi kriya seni’ sebuah statement yang lagi-lagi unik.

Mahruzal dalam kesempatan itu, memajang tujuh karyanya yang diberi judul (1) perahu kehidupan, (2) Bertahan, (3) bersaing, (4) Tak terawat, (5) Keunikan, (6) Kecemasan (7) Kenangan Lama. Ketujuh karya Mahruzal beranjak dari sisi-sisi ekspresi Kande pada zaman dahulu. “perahu kehidupan” adalah gambaran kande yang pada masa dahulu digunakan masyarakat Aceh sebagai penerang utama dalam pesta perkawinan sebelum adanya listrik. Karya “bertahan” merupakan keinginan yang keras dari seorang Mahruzal untuk mempertahankan nilai-nilai budaya lama dengan ekspresi kekinian. Karya “bersaing” sebagai gambaran seni budaya Aceh yang sedang memperkuat eksistensinya di tengah ancaman budaya global sementara karya “Tak terawat” sebuah peringatan akan berkurangnya minat para seniman muda terhadap seni rupa tradisi Aceh. “keunikan” karya Mahruzal, mengingatkan pada seni budaya negeri ini tentang keseragaman dan unik sehinga ‘sayang’ untuk ditinggalkan begitu saja. “kecemasan” adalah konklusi dari gambaran emosi ketakutan terhadap musnahnya aset seni rupa Aceh yang kian kurang diminati kalangan perupa saat ini.

Seorang warga Aceh yang menetap di Sumatera Barat, Ir. L. Mustari Ketua Masyarakat Aceh Bukittinggi dan sekitarnya disela pameran menyatakan sangat terharu terhadap eksplorasi seniman muda asal Aceh ini. Memang ‘Kande” sudah mulai dilupakan masyarakat, padahal benda sederhana ini sangat tinggi nilai estetiknya. Tentu banyak orang Aceh akan ‘kaget’ dengan kepedulian Mahruzal. Memang seniman bertanggungjawab terhadap kelestarian nilai budaya bangsa, dan Mahruzal sudah membuktikan tanggungjawabnya ini.

Adanya karya yang beranjak dari Kande ini merupakan babak baru bagi perkembangan seni rupa Aceh khususnya. Kini kita semua sadar apa yang kita anggap tidak menarik disekitar kita ternyata menyimpan sisi-sisi lain yang sangat potensial dijadikan sebagai sumber inspirasi. Setidaknya apa yang telah dilakukan Mahruzal mengingatkan kita pada beberapa hal; tak perlu jauh-jauh mencari ide yang unik, disekitar kita cukup banyak tersedia, lampu minyak misalnya. Walau beranjak dari sesuatu yang sederhana, ternyata banyak hal yang tersembunyi dari kande, ada sisi kegamangan budaya, sejarah dan bukti kemashuran sebuah bangsa, lihat tekhnologi pengecoran kande sudah demikian unik dan rumit, padahal sekarang tak jelas lagi pabriknya dimana. (3) Aspek kemasyarakatan dan filsafat tak hanya berada pada ide-ide besar dan bombastis, dengan kande Mahruzal mengintip filosopi rumah tangga yang butuh diterangi iman, lihatlah karya “perahu kehidupan”. Terasa sederhana memang namun membangun ruang estetik yang luar biasa. Kande Mahruzal juga bicara sejarah manusia dari zaman tradisi menuju modernisasi, lihat karyanya berjudul “kecemasan”. Kekayaan seni Aceh sangat banyak dan tak akan pernah habis digali, walau hanya diawali dari hal sederhana. Sayang di Nangroe Aceh Darussalam, hal seperti ini tidak ada yang memikirkannya, malahan masyarakat seniman asal Aceh yang berada di luar Aceh yang getol berpikir tentang kemajuan seni budaya Aceh. Berangkat dari hal ini, penulis menawarkan pekerjaan rumah kepada Pemerintah Daerah NAD, Seniman NAD, Intelektual NAD, Tokoh dan Pakar pendidikan di NAD agar berkenan berpikir dan bermufakat menuju musyawarah untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Seni di Aceh, seperti Sekolah Tinggi Seni atau entah apalah namanya. Aceh sudah selayaknya memiliki Lembaga Pendidikan Tinggi seni semacam itu, agar seluruh bidang seni di Aceh yang sangat tinggi nilainya itu dapat terdokumentasikan, dan dapat dikaji secara keilmuan. Jika hal ini tidak dilakukan jangan heran ketika masyarakat Aceh akan belajar tentang seni rupa, tari, teater, sastra Aceh yang memiliki nilai religiutas itu di luar Aceh. Aneh! Hari ini apakah ada anak muda Aceh kenal kande, teater Dalupa, tari Pho, sandiwara gelanggang labu, poh haba, hiem, hikayat, dangderia, cae, biola Aceh, seudati, likok pulo, didong, guel itu apa? Atau besok lusa generasi Aceh harus belajar seni nenek monyang yang luar biasa ini harus ke STSI Padangpanjang, STSI Bandung, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ISI Denpasar, ISI Surakarta, IKJ Jakarta, dan STKW Surabaya sebab beberapa seni Aceh tersebut telah jadi mata kuliah. Luar biasa anehnya jika hal ini terjadi. Kande salah satu contohnya, apakah ada generasi sekarang ini ada yang masih mengetahui asal-usulnya, sejarah dan filosofinya. Aceh harus berterimakasih kepada Mahruzal, ia mempopulerkan kande ke dunia luar.

Selanjutnya karya Mahruzal ini disiapkan sebagai benda berfungsi ganda yakni sebagai hiasan sekaligus benda fungsional, layaknya benda kriya memang demikian. Saat karya Mahruzal dinyalakan ada hal lain yang muncul, suasana masa lalu terasa dalam lampu minyak yang ditiup angin. Bayangan diri menari-nari membawa kita ke masa lalu.

Memang benda seni hadir bukan sekedar pemuasan pandangan zahir, namun harus mampu menembus sisi tak tampak yang memberi kekayaan batiniah. Seniman harus jeli dan setia pada kebudayaan dan terbuka bagi dunia luar. Karya yang indah bukan hanya sedap dipandang. Namun sejauhmana kita dibawa ‘bertamasya’ ke dalam konsep pikir si seniman pencipta. Semoga mahruzal jadi perupa yang dinanti-nantikan oleh bangsa ini. Perupa yang cinta budaya lama tapi tak ketinggalan zaman. Bravo! Mari terus berpikir dan merenung untuk menginovasikan sekaligus menciptakan kebaruan seni yang berangkat dari budaya lokal. Mari.














*) Penulis adalah penyair, aktor, dramawan, sutradara dan pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, juga dosen jurusan teater STSI Padangpanjang-Sumatera Barat.

TEATER MODERN DI ACEH: HIDUP SEGAN MATI TAK MAU

Oleh: Sulaiman Juned *)

Andaikan permasalahan dana yang membuat dunia seni pertunjukan teater agak tersendat-sendat, seperti kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau. Begitulah amsal nafas kehidupan dunia teater di seluruh Indonesia. Berbicara masalah dana, komunitas-komunitas teater dimanapun ia berada tetap saja harus merogoh uang dari kantong sendiri untuk sebuah produksi teater. Biasanya sutradara harus mengeluarkan uang pribadinya untuk membiayai proses kreatif berteater. Jangankan di daerah, Jakarta saja masih mengalami fenomena seperti ini. Namun lain halnya dengan kondisi di Nanggroe Aceh Darussalam sekarang ini, dana melimpah baik dari pemerintah maupun NGO asing pasca tsunami. Dana tersebut ada yang dikhususkan untuk perkembangan dan kemajuan dunia seni di Aceh, bahkan ada yang lebih khusus lagi untuk kemajuan dunia teater di Aceh. Tapi alangkah sayang, jangankan untuk berkembang maju, jalan di tempat pun tidak.

Masa lalu Teater Aceh dan Pasca Tsunami.

Mari kita melirik hati, mengenang sekian puluh tahun ke belakang produktivitas teater modern Indonesia di Aceh. Masa itu, pendanaan sulit, kelompok teater ramai yang paling menyenangkan persaingan juga menjadi sehat. Antara tahun 1970-1997 Taman budaya Aceh yang digawangi Drs. Sujiman A.Musa, M.A memprogramkan pertunjukan teater pilihan tiap bulan. Program tahunan ini hanya dipilih lima kelompok teater yang dianggap berkualitas untuk pentas, dana didukung oleh Taman Budaya Aceh sekitar Rp.500.000,- per grup selebihnya ditanggung masing-masing kelompok teater tersebut jika kurang. Waktu itu, muncullah kelompok-kelompok teater independen seperti; Sanggar Kuala pimpinan Yun Casalona, Teater Mata pimpinan (Alm) Maskirbi, Teater Bola pimpinan (Alm) Junaidi Yacob, Teater Mitra Kencana pimpinan (Alm) Pungi Arianto Toweran, Kriya Artistika pimpinan Kostaman, Teater Peduli pimpinan (Alm), M.Nurgani Asyik, Sanggar Cempala Karya pimpinan Sulaiman Juned, Teater Alam pimpinan Din Saja, Sanggar Kuas pimpinan M.J. Seda, Teater Kosong pimpinan T. Yanuarsyah, teater Gita pimpinan Junaidi Bantasyam. Ada juga kelompok teater kampus yang masa itu ikut bernafas, seperti; Gemasatrin FKIP Unsyiah pimpinan Inal Fromi, Sanggar Kisnaka Unsyiah Pimpinan Zab Bransah, UKM-Teater Bestek-Fak. Ekonomi Unsyiah pimpinan Iwan Yacob, Sanggar Kita Fak. Hukum Unsyiah pimpinan J.Kamal Farza, UKM-Teater Nol pimpinan Jarwansyah. Denyut nadi perteateran di Aceh dalam kurun waktu tersebut memang terus berkembang dan mencapai puncak keemasannya. Ini dibuktikan setiap ada pertemuan teater Indonesia dimana saja, teater Aceh pasti ikut serta, seperti pertemuan teater Indonesia di Makasar 1990, di Jakarta tahun 1995, terakhir di Pekanbaru tahun 1997, setelah itu teater Indonesia pun tidak pernah lagi mengadakan pertemuan sekaligus tak memiliki isu.

Rekan-rekan seniman teater Sumatera cepat membaca kondisi ini, lalu memunculkan isu teater Indonesia kita tatap dari Sumatera. Isu ini ditangkap dan dilaksanakan oleh Jurusan teater STSI Padangpanjang dengan label Pekan Apresiasi Teater. Lagi-lagi Aceh hanya muncul satu kelompok teater, Teater Reje Linge Takengon Aceh Tengah pimpinan Salman Yoga. Sayang, merekapun datang hanya sebagai peninjau bukan mementaskan raga teater, menyedihkan memang. Bolehlah, alasan keterpurukkan teater di Aceh karena konflik yang berkepanjangan antara GAM dan TNI serta POLRI sehingga teater tidak diperbolehkan melakukan pementasan malam hari. Kita kenang masa-masa penjajahan Belanda dan Jepang, kesenian dan seniman Indonesia di ikat ruang geraknya. Namun seni dan seniman tetap melakukan aktivitasnya, jadi alasan klasik tersebut hanya untuk menutupi ketidakmampuan dalam berproses kreatif.

Ada keinginan untuk menjadi lebih baik. Teater dijadikan media pembelajaran moralitas, dan rehabilitasi psikologis bagi anak-anak korban tsunami. Sesungguhnya ini awal yang sangat baik, namun sayang di Nangroe Aceh Darussalam dalam kurun waktu itu bermunculanlah teater-teater yang berjenis Lawakan. Setiap ada pertunjukan teater pasti pertunjukan tersebut menjadi lawak (bukan komedi), penonton hanya membawa pulang tertawa setelah menyaksikan pertunjukan. Begitulah kondisi teater di Aceh.

Selanjutnya tanggal 12 sampai 18 April 2008, di Taman Ratu Syafiatuddin Banda Aceh diadakan kegiatan budaya Diwana Cakradonya, dalam kegiatan tersebut juga muncul event festival teater se-Nanggroe Aceh Darussalam. Ada rasa bangga dan haru ketika mendengar kegiatan teater diberi ruang dalam pesta budaya Aceh tersebut. Namun penulis sangat renyuh menyaksikan teater dipertunjukan dalam pasar malam, dengan fasilitas pertunjukan di bawah standar. Warga dan Pemerintah Daerah Aceh belum menghargai seni teater, yang paling menyedihkan malah masyarakat seniman ikut pula merendahkan dirinya. Apalagi ketika penulis menyaksikan pertunjukan demi pertunjukan, secara keseluruhan pekerja teater Indonesia di Aceh kurang mengerti konsepsi pemeranan, penyutradaraan dan artistik sehingga menggarap pertunjukan teater hanya mengandalkan pengalaman empirik semata. Teater dewasa ini, bukan lagi sekedar hobi, teater telah jadi bagian dari ilmu pengetahuan. Jadi berteater itu harus berguru bukan meniru. Tataran dunia perteateran di Aceh masih dalam taraf menirukan rutinitas kehobian dalam menggeluti teater. Festival teater Se-NAD itu, muncul dalam rutinitas ketimbang tak ada pertunjukan, makanya dilaksanakanlah kegiatan yang menghabiskan banyak uang dengan kualitas kegiatan rendah. Festival teater seharusnya dilaksanakan di gedung pertunjukan yang siap dengan fasilitas pendukung seperti lighting (cahaya), gedung pertunjukan yang memiliki akuistik bagus yang akhirnya berimbas pada kualitas pertunjukan.

Aceh Butuh Lembaga Pendidikan Tinggi Seni

Masyarakat teater Aceh memiliki budaya lokal berteater seperti; dalupa, guel, P.M.T.O.H, didong, dangderia, hikayat dan sebuku serta Gelanggang Labu. Teater-teater tradisi ini, mampu menjadi pemicu teaterawan Aceh dalam proses kreatifnya. Dewasa ini, generasi Aceh banyak yang tidak kenal lagi mengenai seni tradisi yang bernilai tinggi ini. Atas dasar inilah, tak ada salahnya penulis menggantungkan harapan kepada Pemerintah Daerah, Praktisi Keilmuan, Seniman, dan Seniman Akademis baik yang berada di Aceh maupun di luar Aceh untuk duduk bersama memikirkan dan merumuskan pendirian Lembaga Pendidikan Seni di Aceh. Andai Lembaga Pendidikan Seni ini berdiri, tidak hanya mampu mendokumentasikan seni teater tradisional Aceh, namun akan berada dalam cakupan seni yang universal menjadi laboratorium seni Islam Nusantara. Hal ini dapat terealisir karena Aceh kini memiliki hukum Islam sebagai landasan ideal dalam bermasyarakat melalui Qanun Nanggroe Aceh Darussalam. Jika hal ini dikaji serius oleh masyarakat seniman dan PEMDA NAD, maka Seniman Aceh juga harus melahirkan Qanun (Hukum) tentang kesenian. Seni Aceh adalah seni yang berlandaskan Islam. Jadi lembaga pendidikan seni di NAD berbeda dengan kajian seni yang ada di IKJ Jakarta, ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISI Bali, STSI Bandung, STSI Padangpanjang, STKW Surabaya, AKMR Pekanbaru, Akademi Seni Papua. Lembaga Pendidikan Seni ini, selain mampu mengangkat martabat kesenian Aceh, juga mampu mendokumentasikan seluruh seni tradisi Aceh sekaligus mengkaji seni secara keilmuan tidak hanya sebagai hobi. Andaikan Lembaga Pendidikan Seni berdiri di Aceh, ia akan mampu menjawab tantangan jaman terhadap kualitas intelektual seniman Aceh, bukan kuantitasnya. Sekaligus menjadikan Aceh tempat kajian seni yang Islami di dunia selain Turki. Bagaimana (?) Semoga!



*) Penulis adalah Penyair, Sutradara dan pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, juga dosen jurusan teater STSI Padangpanjang asal Aceh.