PADANGPANJANG-SUMATERA BARAT
Sekretariat: Jln. Bundo kanduang No.35 Padangpanjang HP.081393286671 Email:sjdoesy@gmail.com

Kamis, 22 Januari 2009

HIKAYAT CANTOI

HIKAYAT CANTOI
(Berangkat dari Konsep Teater Tutur Aceh P.M.T.O.H)
Oleh: Sulaiman Juned *)

A. Pendahuluan
Teater sebagai seni yang kompleks mengeksplorasi intensitas seniman dalam bentuk emosi dan spektakel (setiap benda yang ada di atas panggung, termasuk aktor, seting, cahaya, proferti, rias dan busana). Menurut Herwanfakhrizal (1996/1997:10) spektakel adalah: “Ekspresi atau ungkapan sutradara/aktor yang ditangkap oleh penonton dalam wujud struktur dan tekstur serta konvensi sebuah teater dalam rentang waktu pemanggungannya, menjadi wujud kesatuan tontonan”. Oleh karena itu, sutradara dan aktor harus mampu merubah lakon verbal menjadi wujud permainan yang mempesona; dalam bentuk audio (pendengaran), visual (penglihatan), dan kenetsic (gerak). Teater dihidupkan oleh penampilan aktor, bersama para aktor ada sutradara yang membentuk corak dan watak penampilan tersebut.
Naskah lakon merupakan bahan dasar sebuah pementasan dan belum sempurna bentuknya apabila belum dipentaskan. Naskah lakon disebut juga sebagai ungkapan pernyataan penulis (playwright) yang berisi nilai-nilai pengalaman umum, juga merupakan ide dasar bagi aktor. Proses pengembangan laku bersumber dari hasil studi dan analisis isi. Hal ini dapat membangkitkan daya kreatif dalam menghayati laku secara pas, melaksanakan peran dengan takaran seimbang dalam asas keutuhan, keseimbangan serta keselarasan. Sementara pertunjukan teater tutur Aceh P.M.T.O.H (mengambil salah satu nama bus yang berada di Aceh) karena Teungku Adnan sering menaiki bus P.M.T.O.H untuk bepergian keliling Aceh sebagai penjual obat keliling. Teungku Adnan sangat senang dengan klakson bus tersebut, maka dalam setiap mengawali pertunjukan teaternya Teungku Adnan selalu memulainya dengan suara klakson. Teater ini akhirnya diberi nama P.M.T.O.H atau juga sering di sebut Dangderia , Poh tem atau Peugah haba yang berarti ‘berbicara’ atau ‘orang yang pekerjaannya bercerita’ naskah lakon yang dimainkan berbentuk hikayat (karya sastra Aceh berbentuk puisi).
Rahman Sabur (2003:11) mengungkapkan, “Monolog adalah suatu jenis bentuk seni pertunjukan drama modern yang berasal dari bahasa Yunani. Artinya suatu pembicaraan atau suatu persoalan yang dipergelarkan oleh seorang aktor atau sebuah lakon yang berbicara mengenai masalah pribadi seorang tokoh saja”. Berangkat dari uraian tersebut, latar belakang tokoh, dan cerita monolog sangat penting bagi setiap pergelaran drama tunggal, karena pada umumnya plot drama senantiasa dipaparkan dengan teknis kilas balik. Apa yang tersaji di awal cerita, pada dasarnya akibat akhir dari apa yang dibicarakan tokoh tersebut untuk selanjutnya, sama halnya yang dilakukan dalam pertunjukan teater tutur Aceh.
Teater tutur Poh Tem, Peugah Haba atau Dangderia yang dipopulerkan Teungku Adnan dengan sebutan P.M.T.O.H dimainkan satu orang dalam bentuk monolog. Namun bila dibandingkan dengan monolog dalam teater modern Indonesia, terlihat beberapa perbedaan. Monolog yang lazim dilakukan teater modern lebih banyak bersifat penuturan dengan melakukan movement (gerak), sedangkan pada teater tutur P.M.T.O.H lebih kaya dengan ekspresi, karakter tokoh, dan karakter bahasa dialog yang berubah-ubah. Begitu juga dengan penggunaan alat/properti serta pergantian busana dalam setiap adegan, musik vokal, tubuh, rapa’i dan bantal dimainkan langsung oleh pemeran. Pemeran bermain dengan tekhnik duduk dan tidak melakukan movement (gerak) atau blocking (perpindahan) dari satu tempat ke tempat yang lain. “Teater tutur yang di beri nama P.M.T.O.H ini dikembangkan oleh Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik Rapa’i Aceh, pedang, suling (flute), bansi (block flute), serta mempergunakan properti mainan anak-anak dan berbagai macam busana. Properti dan alat musik memperkaya penampilan dan sekaligus menjadi kekuatan dalam merubah kejadian-kejadian yang ia perankan” (Sulaiman Juned, 1999:1-3).
Drama monolog, Teungku Adnan bermain sendiri tetapi mampu memunculkan beribu-ribu tokoh (seolah-olah banyak sekali pemeran yang sedang berperan) , hal ini dilakukan lewat kemampuan suara (vokal), dan perubahan busana tergantung peran yang diperankan dalam hikayat (cerita). Hal inilah yang membuat penulis memilih kesenian ini untuk digarap menjadi karya ujian akhir melalui perkawinan teater tutur Aceh dan teater modern Indonesia. Teater tutur ini mempunyai kemungkinan untuk digarap agar keberadaan aktor dalam pertunjukan monolog dapat bersifat menyeluruh sebagai pusat permainan. Monolog memungkinkan aktor hadir sebagai manusia yang absolut. Melalui monolog aktor dapat menyusun sejarah teater yang lebih memperhitungkan pencapaian keaktoran baik dalam gagasan teater maupun pencapaian teknik permainan.

B. Konsep Kekaryaan
“Hikayat dalam bahasa Aceh tidak diartikan sebagai aslinya yaitu ‘kisah’ (cerita). Bukan saja dongeng duniawi, keagamaan, pelajaran tentang adat, bahkan buku cerita yang ditulis dalam bentuk sajak (puisi) di sebut hikayat, dan ini merupakan hasil sastra yang sangat luas dalam khazanah kesenian Aceh karena dapat menjadi seni pertunjukan” (Budiman Sulaiman, 1988:10). Hikayat selalu saja terdapat tanda-tanda formil berupa rumus yang memuji Allah serta Rasul-Nya. Jadi teater tutur P.M.T.O.H lakonnya selalu saja berangkat dari hikayat, seperti Hikayat Malem Dewa, Malem Dagang, Putroe Ijo, Raja Si Ujud, Prang Sabi, Sanggamara, Nalham Sipheuet Dua Ploh, Gumbak Meueh, Indra Budiman dan lain-lain.
Teater tutur P.M.T.O.H menjadi kebanggaan masyarakat Aceh memiliki konsep permainan yang unik sesuai dengan spirit dan nuansa teaterikal yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakatnya. Teater tutur ini dimainkan oleh satu orang dalam bentuk monolog. Menurut A.Anjib Hamzah monolog adalah ‘Pertunjukan drama yang dilakukan oleh seorang pemain; dialog yang diucapkan pada diri sendiri” (1984:411). Jadi monolog dikenal sebagai bentuk permainan seorang diri. Seorang aktor harus mampu bermain sendiri dan memberi bentuk pertunjukan sendiri. Monolog juga biasanya memakai syair dan dialog-dialog yang panjang.
Menurut Teungku Adnan P.M.T.O.H ”Jauh sebelum teater tutur Poh Tem berkembang, di Aceh Selatan terkenal seorang penyair Dangderia bernama Muhammad Lapei. Mat Lapei menyampaikan hikayat hanya mengutamakan ekspresi wajah, sambil berdiri di atas podium dengan menggunakan pedang pelepah kelapa dan bantal. Sekitar tahun 1956 saya menirukan ekspresi dari Mat Lapei yang adalah guru Tengku Adnan dalam mempelajari hikayat, lalu mengembangkan teater tutur ini dengan memakai kostum yang sesuai dengan tokoh yang ada dalam hikayat, serta menggunakan peralatan seperti senapan mainan, boneka, pistol-pistolan, wig, topeng dan lain-lain” (Wawancara dengan Teungku Adnan, 14 Desember 2003, di Trienggadeng Pidie, Aceh).
Berangkat dari pemikiran di atas, merangsang proses kreatif terhadap persoalan sosial melalui konsepsi keilmuan berkeinginan menggarap teater monolog yang berbasis dari teater tutur Aceh P.M.T.O.H. Penulis dalam hal ini tidak berangkat dari naskah hikayat namun menuliskan naskah monolog yang berjudul “Hikayat Cantoi” dipentaskan dalam bahasa Indonesia. Serta mengawinkan konvensi (Aturan/Hukum) teater modern terutama pada movement (pergerakan), dan blocking (perpindahan) pemeran di atas pentas, seting (dekorasi), proferti, rias, dan busana. Juga memakai kekayaan tubuh sebagai musik (musik perkusi tubuh), seperti; tepuk dada, paha, perut, dan ketip jari (seudati), tepuk tangan (didong), rabana adok, serta gerak tari guel. Seudati merupakan suatu bentuk teater tradisional Aceh yang struktur dasarnya ada gerak, syair dan dimainkan seluruhnya oleh laki-laki. Guel sebenarnya sendratari yang ditarikan oleh beberapa penari wanita dan seorang penari laki-laki dengan gerak patah-patah. Tari ini untuk membangunkan gajah jelmaan dari seorang anak raja yang sudah meninggal, dan dipercayakan oleh masyarakat Aceh, gajah jelmaan tersebut menjadi gajah putih tunggangan Sultan Iskandar Muda. Didong teater tradisional Aceh yang kekuatannya terdapat pada syair (cerita yang berbentuk puisi), tepuk tangan dan goyangan badannya dengan pola duduk melingkar.
Karya ini menghadirkan tokoh yang kompleksitas sejarah dan psikologis. Cantoi seorang lelaki Aceh yang bekerja sebagai guru dipaksakan oleh situasi untuk menjadi ‘pak turut’ agar jiwanya selamat. Lelaki yang berusia 35 tahun, memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Seluruh anak dan istrinya ditemukan tewas di tengah sawah miliknya, mereka di tuduh terlibat dalam Gerakan Atjeh Merdeka (GAM). Hal ini membuat Cantoi sangat terpukul, jadi untuk dapat hidup tenang haruslah menjadi manusia yang ‘pintar-pintar bodoh’. Penulis memilih tokoh imajiner ini, karena di Aceh sebutan bagi orang yang sesungguhnya ia pintar tetapi kelihatannya bodoh dipanggil dengan nama Cantoi. Antara tahun 1996-2003, masyarakat Aceh telah mengalami pergeseran atau perubahan budaya. Hal ini terjadi karena interaksi sosial dari hasil kekejaman militer melalui tekanan-tekanan yang dialami setiap waktu, perubahan karena tindak sosial memnyebabkan lahirnya ideologi dan terjadinya restrukturisasi terhadap tingkah laku masyarakat.
Interaksi tersebut membuat prilaku masyarakat Aceh saat ini, terwujud dari keharusan normatif yang terlahir dari kesantunan, rasa persaudaraan, pemurah, peramah, dan setia terhadap siapapun. Namun interaksi yang terjadi lewat tindakan sosial dengan kekerasan yang dilakukan militer terhadap masyarakat melahirkan perlawanan tak henti dari pihak pemberontak. Sementara rakyat tercekam dalam tekanan dan ketakutan karena setiap detik menyaksikan pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, pembakaran serta kontak senjata antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Gerakan Atjeh Merdeka (GAM). Hal ini melahirkan kondisi psikologis seperti yang dialami tokoh Cantoi, sehingga suatu ketika dia melihat dirinyalah yang mati dilapangan sepak bola itu. Kondisi yang diciptakan setiap yang mati pasti di tuduh sebagai GAM, bersaudara dengan mereka juga harus mati.
Kondisi sosial seperti yang diuraikan di atas menjadi latar belakang lahirnya karya “Hikayat Cantoi” yang berangkat dari realita sosial menjadi media didaktis bagi kehidupan bermasyarakat di Aceh. Jadi karya ini, tidak hanya sebagai media hiburan semata. Selain itu juga dapat menjadi alternatif dalam memahami teater monolog sebagai kajian keilmuan dalam idiom teater. Atas dasar itu, lahir realita teater monolog berjudul ‘Hikayat Cantoi’ di atas pentas dengan konsep kekaryaan:

1. Gagasan
Teater yang berangkat dari akar tradisi merupakan pilihan penulis semenjak awal berkenalan dengan dunia teater, sekaligus menjadi sumber penciptaan ‘Hikayat Cantoi’. Penulis sangat tertarik dengan gerak dasar seudati , apabila gerak tersebut dapat diterima menjadi blocking (perpindahan) dalam konsepsi pertunjukan teater, maka akan terjadi kebaruan di dunia teater modern Indonesia. Begitu juga kekuatan sastra Aceh baik lewat didong maupun hikayat dapat menjadi konvensi (aturan/hukum) bagi masa depan teater Indonesia.
Berdasarkan itu, penulis mengawinkan konsepsi teater tradisi dengan teater modern untuk memuliakannya. Kondisi di Aceh pada masa konflik sebagai dasar penciptaan teks ke konteks dan menjadi kontekstual. Cantoi saksi sejarah atas peristiwa yang menimpa Aceh. Betapa banyak anak-anak menjadi yatim, perempuan-perempuan menjadi janda, kampung-kampung di bakar. Peristiwa seperti ini sesungguhnya yang menderita adalah rakyat. Cantoi wakil dari rakyat Aceh, terpaksa pintar-pintar bodoh untuk menyuarakan ketertekanan batin yang mengapung di jiwa agar jadi catatan sejarah untuk pembelajaran bagi masa depan. Namun sudah merupakan sikap dan sifat manusia jika rasa takut memuncak maka muncullah keberanian. Cantoi pun melawan.
Teater monolog ‘Hikayat Cantoi’ tidak bersumber dari teater tutur Aceh yang berusaha memvisualisasikan Hikayat (kisah/cerita) sebagai naskah lakon yang dialognya dalam bahasa Aceh menjadi kenyataan teater. Penulis membuat naskah lakon monolog berjudul “Hikayat Cantoi” dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa pentas untuk mewujudkan realitas teater. Hal ini ini dilakukan karena pertunjukannya di Padangpanjang Sumatera Barat dan bukan dalam komunitas masyarakat Aceh. Konsepsi teater tutur P.M.T.O.H dikawinkan dengan konvensi teater modern pada konsepsi blocking (perpindahan pemain) aktor, dan movement (gerak), yang dalam teater tutur P.M.T.O.H tidak dilakukan. Begitu juga dengan musik, penulis memakai musik perkusi tubuh; tepuk dada, perut, paha, dan tepuk tangan serta ketip jari (seudati/didong/guel. Kesenian tradisi Aceh) serta menambah instrumen musik rabana (adok), musik tekno untuk mengisi efek senjata dan derap sepatu. Pemusik sekaligus berfungsi menjadi kopr/korus (menjadi rakyat, maling sekaligus pendekar). Hal ini diperkuat oleh Margaret J. Kartomi (2005) “Musik perkusi badan yang ada di Aceh itu sangat luar biasa dan mungkin yang paling maju di dunia, yaitu menimbulkan bunyi musik dengan gesekan tubuh tanpa instrumen”
Seting yang digunakan adalah Jambo (pos keamanan). Sementara di kiri depan dan kanan depan pentas serta di belakang Jambo terdapat kain putih yang berfungsi sebagai layar, merupakan tempat duduk para pemusik. Di awal cerita terdengar lagu Atjheh Tanoeh Loen Sayang dan gerakan tari guel ditarikan pemusik sambil melakukan pergerakan dari siluet kiri dan kanan depan pentas menuju ke siluet belakang pentas. Dilanjutkan dengan nyanyian lagu sebuku (siluet digunakan untuk pencapaian konsepsi artistik sebagai penanda, setiap peristiwa yang terjadi di siluet sesungguhnya pergulatan pikiran dari tokoh Cantoi). Sementara lagu Maju Tak Gentar untuk penanda munculnya para pendekar. Diakhir cerita (penutup) kembali dinyanyiakan Hikayat Prang Sabi dan Atjeh Tanoeh Loen Sayang.

2. Bentuk Karya
Melakukan pementasan teater yang berangkat dari naskah lakon walaupun monolog, bukanlah pekerjaan sederhana. Hal ini disebabkan seni teater bukanlah seni individual melainkan membutuhkan kerja bersama-sama. Teater merupakan seni yang Kolektif (bersama) karena terdapat unsur-unsur seni lainnya seperti; sastra, musik (suara), tari (gerak), seni rupa (cahaya, seting, properti, rias, dan busana). Keseluruhan unsur menjadi kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan ketika menjadi kenyataan teater (pementasan). Berangkat dari gerak seudati dan guel dalam pengaturan blocking yang dikawinkan dengan konvensi teater tutur P.M.T.O.H dan teater modern Indonesia seperti yang telah penulis jelaskan di atas.
Teater adalah kesenian yang berhubungan dengan banyak orang dalam mewujudkan ide menjadi kenyataan teater. Karakteristik ini membuat kerja teater atas dasar keserasian konsep dan ide artistik dengan tim pendukungnya.

3. Media
Konsep garapan yang tertuang dari ide dasar naskah monolog ‘Hikayat Cantoi’ maka terwujudlah akting (laku). Karya ini menampilkan unsur-unsur kebaruan, seperti;
1. Cerita, tidak berangkat dari hikayat (kisah/cerita) seperti hikayat Malem Dewa dan Malem Budiman. Namun penulis menuliskan naskah drama monolog berjudul ‘Hikayat Cantoi’.kisah dalam cerita ini, menuangkan peristiwa yang terjadi di Aceh dalam masa konfliks antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Gerakan Atjeh Merdeka (GAM) di Aceh. Karya ini bertemakan ‘Kekuasaan sangat akrab dengan kejahatan’
2. Bahasa dalam karya ini berfungsi sebagai alat ungkap termasuk gerak tubuh merupakan bahasa yang disimbolkan dalam menyampaikan peristiwa. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan adalah bahasa Indonesia, sementara untuk membangun suasana tertentu dipakai bahasa Aceh, seperti dalam memulai dan mengakhiri pertunjukan dengan memakai nyanyian Hikayat Prang Sabi (kisah/cerita perang suci) dan lagu Atjeh Tanoeh Loen Sayang serta lagu sebuku (ratapan).
3. Musik dan instrumen yang digunakan dalam karya ini cukup sederhana dengan memakai musik perkusi tubuh serta memakai instrumen rabana (adok), untuk menjelajah kemungkinan bunyi yang ditimbulkan, dan memunculkan suasana-suasana, serta pemusik sekaligus menjadi koor/ korus yang terkadang menjadi tokoh maling, rakyat dan pedekar.
4. Pertunjukan ‘Hikayat Cantoi’ menggunakan seting Jambo (pos keamanan). Di sisi kiri depan dan kanan depan pentas serta di belakang Jambo, terdapat kain putih yang berfungsi sebagai siluet, sekaligus tempat duduk para pemusik. Setiap peristiwa yang terjadi di siluet merupakan pergulatan batin dan pikiran dari tokoh Cantoi.
5. Penataan cahaya dalam pertunjukan ‘Hikayat Cantoi’ sebagai lakon tragedi komedi yang penulis garap dengan gaya realisme sugestif (menghadirkan akting, blocking, dekorasi, properti minimalis namun banyak kegunaannya, seperti senjata dapat menjadi pesawat dan cangkul). Seluruh adegan dalam monolog ini terjadi pada malam hari, karena Aceh pada masa konfliks oleh penguasa (militer) diberlakukan jam malam, setiap laki-laki yang ada di kampung-kampung wajib ronda malam agar para pemberontak tidak mudah keluar masuk kampung di waktu malam hari. Warna lampu menentukan suasana yang mendukung tangga dramatik, adalah; biru tua, biru muda, biru, merah, merah hati, merah muda, hijau muda, hijau, kuning, ungu dan merah jambu serta lampu blizt (untuk mendukung suasana peperangan). Melalui cahaya penulis ingin memberikan pengaruh psikologis serta menggambarkan suasana pentas dalam lakon. Selain itu juga dapat menjadi petunjuk waktu.

C. Proses Kekaryaan

1. Observasi
Proses penyusunan penciptaan karya ini, penulis lakukan melalui membaca buku, observasi terhadap teknik pemeranan dan pertunjukan teater tutur Aceh P.M.T.O.H serta melalukan observasi terhadap kondisi masyarakat Aceh yang hidup dilingkungan konfliks anatara militer Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Gerakan Atjeh Merdeka (GAM). Penulis melakukan observasi selama tiga tahun, sejak tahun 1996 sampai dengan 1999 di Kecamatan Tiro Truseb Kabupaten Pidie. Penulis menemukan kejadian-kejadian aneh, di sebuah kampung sering terjadi pembunuhan dan mayat-mayat bergelimpangan di sawah, ladang, dalam rimba bahkan di tengah pasarpun mayat-mayat berserakan. Anehnya lagi, setiap ada yang mati masyarakat di sekitar itu sangat ketakutan dan tidak ada seorang pun yang berani mengaku mayat itu kerabatnya, tidak pula pernah diketahui siapa pembunuhnya. Di daerah Tiro ada kampung yang hanya di huni oleh anak-anak dan perempuan janda, sebab laki-laki sudah banyak yang terbunuh. Penulis juga menemukan orang-orang yang terkena tekanan jiwa, suka bicara sendiri dan selalu ketakutan apabila ada rombongan truk militer melintas dikampungnya. Awalnya penulis lakukan observasi ini untuk menulis cerpen yang berjudul Cantoi, di muat di Surat Kabar Mimbar Minang pada tanggal 15 April 2000. Naskah cerpen tersebut, penulis tuangkan menjadi naskah lakon monolog ‘Hikayat Cantoi’. Keadaan ini, membuat penulis tertarik untuk mengangkat realita sosial menjadi realita teater dan ditransformasikan ke atas pentas agar jadi sejarah dan pembelajaran berharga bagi masyarakat Aceh khususnya dan Indonesia umumnya.
Karya ini secara terus menerus penulis melakukan latihan untuk mencari alternatif-alternatif yang memungkinkan lahirnya idiom-idiom baru. Sekaligus melatih kepekaan keaktoran dan penyutradaraan dalam mentransformasikan peristiwa teater. Berangkat dari pemikiran di atas, maka terciptalah konsepsi pertunjukan teater ‘Hikayat Cantoi’ yang terangkum dalam realitas sosial menjadi realitas teater yang berakar pada tradisi.

2. Proses Penciptaan Karya
Proses latihan aktor dalam suatu produksi, harus sampai pada bentuk peran yang dicarinya melalui usaha menguasai unsur-unsur seni peran. Atas dasar itu, memilih pemain sangat menentukan tingkat keberhasilan pertunjukan. Penulis dalam memilih aktor mengutamakan kecerdasan, kecocokan fisik dan memiliki kejiwaan yang mirip dengan karakteristik tokoh Cantoi agar mampu menerjemakan laku di atas pentas. Penulis memanggil lima orang aktor yang berkenan di casting (pemilihan) menjadi calon tokoh Cantoi, tiga orang berasal dari Riau, satu orang dari Minangkabau dan satu orang lagi berasal dari Aceh. Selanjutnya melakukan pemilihan dengan cara membaca naskah selama satu bulan. Membaca naskah memakai dialek Aceh. Sementara itu, dialek orang Aceh ketika berbicara dalam bahasa Indonesia sangat sulit ditirukan oleh etnis di luar Aceh, maka penulis memutuskan untuk memilih Azhadi Akbar, mahasiswa jurusan teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang yang berasal dari Aceh untuk memerankan tokoh Cantoi.
Begitu juga dalam menentukan karakter tokoh, gaya yang dikembangkan secara bersama-sama dalam proses latihan. Irama yang tepat atau ukuran kecepatan laku dalam pribadi aktor. Hal ini untuk mengukur sejauhmana aktor mampu melakukan pengembangan peran dari proses latihan menuju pertunjukan. Mengenai proses latihan, penulis sebagai sutradara mencoba memakai dua metode, yaitu latihan di alam bebas dan auditorium. Pelaksanaan latihan alam bebas yang penulis lakukan untuk eksplorasi karakter tokoh. Proses latihan membaca naskah, blocking kasar, penyesuian blocking, latihan mempergunakan properti, seting/dekorasi, busana, cahaya, geladi bersih sampai ke pertunjukan mempergunakan gedung teater arena Mursal Esten STSI Padangpanjang.
Prekwensi latihan bersama aktor, dan tim artistik “Hikayat Cantoi” 3 (tiga) kali dalam seminggu dengan jumlah pertemuan 77 (tujuh puluh tujuh) kali pertemuan, di tambah 1 (satu) kali geladi bersih, serta 1 (satu) kali pertunjukan. Keseluruhan berjumlah 79 (tujuh puluh sembilan) kali pertemuan.
2.1 Sinopsis ‘Hikayat Cantoi’
Aku ingin tetap menjadi Cantoi. Cantoi tubuhku-pikiranku, maka Cantoilah namaku, tak lebih tak kurang. Namun bila mencari duri dalam tumpukan jerami kenapa ladang yang harus di bakar, cantoi tetap tidak sepakat. Sekali Cantoi tetap Cantoi.
2.2 Penataan Pentas
Teater sebagai seni yang kompleks harus mampu membahasakan setiap benda yang berada di atas panggung, seperti seting/dekorasi, properti, rias, cahaya, busana, gerak dan musik. Pentas merupakan spektakel hidup dan aktor harus menghidupkan pentas agar penonton dapat menikmatinya dengan sempurna.
2.3 Seting/Properti
Pertunjukan ‘Hikayat Cantoi’ seting (dekorasi) menggunakan Jambo (pos keamanan). Di sisi kiri dan kanan depan pentas, serta belakang Jambo, terdapat kain putih yang berfungsi sebagai siluet dan sekaligus tempat duduk para pemusik, serta memakai tanah di atas panggung agar tercapai suasana perkampungan, sedangkan properti memakai bingkai (penanda jendela), dan senjata yang dapat berfungsi menjadi pesawat dan cangkul.
2.4 Cahaya
Penata cahaya untuk memperjelas ruang dan waktu yang terjadi pada malam hari. Warna lampu untuk mendukung tangga dramatik adalah, biru tua, biru muda, biru, merah hati, merah muda, merah jambu, merah, hijau, ungu. Cahaya berpengaruh pada psikologis, serta dapat menggambarkan suasana pentas selain sebagai penunjuk waktu.
2.5 Rias
Tata rias dalam pertunjukan ‘Hikayat Cantoi’ memakai rias karakter (rias effek) khusus untuk tokoh Cantoi, sedangkan untuk pemusik yang berperan sebagai koor/korus hanya mempergunakan rias gagah dan rias cantak.
2.6 Busana
Busana yang di pakai untuk pertunjukan ‘Hikayat Cantoi’ memakai tipe busana tradisional Aceh. Tokoh Cantoi memakai tengkulok, kupiah hitam, baju putih, celana hitam, dan kain sarung, sedangkan pemusik memakai baju dan celana hitam.
2.7 Gerak
Seudati dan guel memiliki gerak magis yang menawan apabila dapat digabung dengan kenetsic (gerak) yang ada dalam konsepsi teater modern, maka akan tercipta kebaruan terhadap blocking bagi masa depan teater Indonesia. Penggabungan ini yang penulis lakukan dalam Cantoi.
2.9 Musik
Pemusik berada di atas pentas menjadi koor/korus yang sekaligus berperan sebagai aktor. Musik perkusi tubuh, seperti; ketip jari, tepuk tangan, tepuk dada, lagu Hikayat Prang Sabi, Atjeh Tanoeh Loen Sayang, Sebuku, didong, dan rabana (adok). Musik tekno hanya untuk mendukung suasana.
Pertunjukan teater ‘Hikayat Cantoi’ berdurasi 61 menit dan disajikan dalam satu bagian (satu babak) tanpa henti. Bertempat di Gedung Teater Mursal Esten STSI Padangpanjang-Sumatera Barat.


3. Hambatan dan Solusi
Proses kreatif latihan teater Hikayat Cantoi lebih kurang dalam kurun waktu 79 (tujuh puluh sembilan) kali pertemuan, memang ada bebarapa hambatan, proses latihan tidak dapat dilaksanakan secara rutin di ruang teater arena karena gedung tersebut juga di pakai untuk ujian dan proses latihan mahasiswa jurusan teater STSI Padangpanjang. Hal ini yang membuat proses latihan Hikayat Cantoi agak terganggu.
Berdasarkan kendala tersebut, penulis sebagai sutradara mencari solusi dengan memilih latihan di alam terbuka. Latihan di ruang terbuka sekaligus dapat melatih kekuatan vokal dan kejelasan artikulasi para aktor/pemeran.

D. Deskripsi Karya
Bentuk drama monolog mulai di kenal pada drama-drama Yunani dan Romawi dalam bentuk soliloqui (bentuk monolog yang berdiri sendiri dalam sebuah naskah). Soliloqui merupakan bagian dari adegan naskah yang sedang dimainkan. Kebiasaannya, monolog menggunakan syair dan dialog yang panjang. Pelaku merupakan suatu karakter pembicara untuk memperjelas dan menetapkan nama yang sesungguhnya, maka si pelaku seolah-olah ada dua orang, tiga orang atau lebih. Dimana dalam pertunjukannya yang seorang diam, dan seorang lagi berbicara. Atas dasar itu, deskripsi sajian pertunjukan monolog ‘Hikayat Cantoi’ sebagai berikut;
1. Dimulai dengan lampu padam. Lalu hidup lampu warna merah di Jambo. (pos keamanan), tokoh cantoi tertidur lelap. Kemudian terdengar musik sound effeek; suara alam, angin, suara tembakan dari senjata, dan suara air gemericik. Diikuti oleh musik perkusi tubuh, ketip jari, tepuk dada, paha, tangan serta musik rebana (adok), sound effeek mempergunakan musik tekno, terdengar Alunan Hikayat Prang Sabi (perang suci) Karya Teungku Syik Pante Kulu yang dinyanyikan:
Subhanallah Wahdahu Wabihamdihi
Khalikul bahri Walaili Azza Wajalla
Uloen pujoe pho sidroe pho syukur keu Rabbi ya Aini
Ke kamoe neubri beusuci Atjeh mulia.



Tajak prang musoh beureuetoh dum sitree Nabi
Nyang meungki keu Rabbi keu pho nyang Esa
Meusoe han teuem prang chit malang cilaka tuboh rugoe roeh
Syuruga than roeh rugoe roeh balah neuraka.

Ureueng binoe lah binoe geumoe meukiyam
Aneuk jak lam prang peutimang amanah Nabi
Meubek tatakoet taseuroet aneuk senapan bangsawan
Aneuk meuriyam ya Allah ata si Pa’i


Darah nyang hanyi lah hanyi gadoeh di badan
Geuboh lee Tuhan ya Allah ngoen minyeuek kasturi
Dikamoe Atjeh ya Allah darah pejuang-pejuang
Neubri beumanyang ya Allah Atjeh mulia.

Artinya :
Subhanallah Wahdahu Wabihamdihi
Khalikul bahri Walaili Azza`Wajalla
Segala puji bagi Allah yang Maha Esa
Berikan kepada kami Atjeh Mulia.

Mari kita berperang melawan musuh Nabi
Yang melanggar perintah Tuhan Yang Esa
Barang siapa tak mau berperang di jalan Allah malang untungnya
Orang itu tidak masuk surga tapi malah diberi azab neraka.

Kaum perempuan menangis tersedu-sedu
Anaknya berangkat dalam perang menjalankan amanah Nabi
Jangan takut apalagi mundur melihat senjata meriam, bangsawan
Walau bagaimanapun hebatnya senjata kafir tidak pernah ditakuti.

Bau amis darah akan hilang di badan
Kelak diganti dengan wangi kasturi oleh Tuhan dalam surga
Kami bangsa Aceh memang darah pejuang
Allah yang meninggikan bangsa Aceh dengan kemuliaan.

2. Lampu warna merah di atas jambo (pos keamanan) hidup remang. Tokoh cantoi tebangun dari mimpi ketika terdengar`derap sepatu pendekar yang tak beraturan. Musik perkusi tubuh; tepuk dada, paha dan tepuk tangan, ketip jari rebana (adok) dimainkan pemusik yang berada di sisi kiri depan pentas dan kanan depan pentas yang diselebungi siluet dengan lampu warna biru dan merah hati. Terdengar lagu Atjeh Tanoh Loen Sayang Karya T. Djohan dinyanyikan;
Daerah Atjeh tanoh loen sayang
Nibak teumpat nyan loen hudeueb mate
Tanoeh keuneubah endatu monyang
Lampoeh deungon blang luah bukhen le.


Keurija hudeueb nasoe peutimang
Nasoe peuseunang keurija mate
Hate nyang susah loen rasa seunang
Atjeh loen sayang sampoe’an mate.
Artinya:
Daerah Aceh tanah ku sayang
Disinilah tempat hidup dan matiku
Tanah pusaka dari nenek moyang
Sawah dan ladang luas sekali

Acara di dalam dunia ada yang mengurusi
Masalah kematian ada pula yang menyelesaikannya
Hati yang susah aku rasa senang
Aceh kusayangi sampai akhir hayatku.

3. ketika tokoh cantoi melakukan tari Guel lalu menyanyikan lagu sebuku (ratapan) //…aku harus bagaimana…//. Pemusik juga melakukan gerakan tari guel dan bergerak dari siluet kiri/kanan depan pentas menuju siluet di belakang Jambo. Sekaligus bersebuku di siluet belakang:
Ee ine bayakku ine
Kusihen aku mungadu
Naseb bangsaku sabe wan karu
Selohen kite moreb wan tenang murenang.

Ee ine bayakku ine
Tentang kupanang-kupanang ari borni seulawah, bayakku
Sek mugersek terides luke masa sedenge
kusi kumai Acehku sayang, denang ku denang.

Ho…ho…ho…Acehku sayang denang ku denang
Entimi kite berserulak mukalak ate wan mutalu..uuu..uuu
Ulak mi kite kumasa sedenge..eee…ee..bayakku ineee
Keti mujaya Acehku lagu masa silalu..aku harus bagaimana bayakku.
Artinya:
Eeee ibuku saudaraku ibuku
Kemana aku mengadu
Nasib bangsaku selalu dalam konflik
Kapan kita hidup dalam tenang dan bahagia
Eeee ibuku saudara ibuku
Apabila kusaksikan dari gunung seulawah, saudaraku…
Terlihat jelas luka masa lalu
Kemana kubawa Acehku sayang, sambil kunyanyikan
Ho…hoho..Acehku sambil kunyanyikan
Janganlah kita melukai hati sendiri dentang berdentang…uuu..
Ingatlah kemasa lalu eeee…eee.. saudaraku ibuku
Agar berjaya Aceh seperti masa lalu…aku harus bagaimana…
Saudaraku ibuku….

4. Cerita ini terangkum dalam struktur dramatik monolog;
a. Pengenalan, bagian awal dari cerita. Di sini tokoh memperkenalkan siapa sebenarnya Cantoi, maling, pendekar, Cuma Habibah, Tgk. Suman, Pak Keuchik, dan Ustadz.
b. Pengembangan, melakukan pengembangan terhadap teks lakon dengan memasukkan unsur-unsur komedi seperti yang terdapat pada monolog halaman 2 (dua); //Senang jadi Cantoi, cita-citaku tetap Cantoi…dan seterusnya//.
c. Konflik (masalah/peristiwa yang mengantarkan kepada klimaks sekaligus mendukung munculnya klimaks). Masalah mulai muncul dengan hadirnya tokoh para pendekar untuk mencari maling di kampung (desa) Sabe-Sabe.
d. Klimaks (puncak peristiwa/masalah), ketika pendekar menanyakan kepada penduduk kampung, siapa yang mengenal mayat maling yang sudah mati akibat dari kontak sejata dengan para pendekar. Ketika Cantoi melihat mayat tersebut, malah ia melihat dirinyalah yang mati itu.
e. Konklusi (kesimpulan akhir) terjadi ketika tokoh Cantoi di seret oleh para pendekar, lampu padam dan terdengar suara senjata. Jadi kesimpulan dalam pertunjukan ini diserahkan kepada penonton untuk menafsirkannya.
5. Pemusik muncul di sisi kiri depan pentas dan depan kanan pentas yang ada siluet, pemusik sekaligus berfungsi sebagai suara pendekar, Teungku Suman, dan Cuma Habibah dalam bentuk koor (korus). Instrumen musik rebana (adok), dan sound effeek yang memakai musik tekno untuk mendukung suasana seram, ketakutan, kesedihan, dan kesakitan serta untuk menghadirkan effek suara senjata.
6. Melakukan movement (gerak) dan blocking (perpindahan) dengan berdendang (hikayat). Hal ini dilakukan sambil mempersiapkan properti dan hand property seperti pesawat mainan dan bingkai jendela. Pergerakan ini dilakukan ketika para pendekar baru datang dengan menaiki pesawat, sementara rakyat mengintip dari jendela rumahnya. Irama lagu Maju Tak Gentar terdengar. Tokoh Cantoi dengan memegang cangkul yang dapat berubah menjadi senjata memberi hormat ala militer.
7. Kepala pendekar berpidato di lapangan sepak bola. Hari itu juga terjadi kontak senjata antara para maling dengan para pendekar.
8. Ketika Cantoi bersebuku (meratap) dengan kalimat //……aku harus bagaimana…// lalu bergerak dengan tari guel, pemusik sekaligus melakukan pergerakan dengan tari guel ke siluet belakang Jambo.
9. Lampu warna ungu hidup tepat di posisi kiri panggung, bertepatan kain putih naik dari bawah ke batem 3 pentas. Kain putih itu simbol dari roh yang terbang kembali ke khalik-Nya. Para perdekar sedang mencari tahu siapa yang mengenali mayat tersebut. Semua diam, sebab barangsiapa yang meratapi kematian maling sama dengan bersimpati kepada maling.
10. Cantoi melihat dirinyalah yang mati itu (bagi masyarakat Aceh tekanan jiwa seperti ini sering dialami akibat kekejaman militer). Akibat dari ketakutan yang luar biasa karena tekanan tersebut melahirkan keberanian, Cantoi tidak mau menjawab siapa yang mati. Cantoi malah berani mengkritisi kekejaman para pendekar, akibatnya Cantoi di seret (ditangkap) oleh para pendekar.
11. Lampu padam. Terdengar musik rabana (adok), serta Hikayat Prang Sabi (kisah/cerita) dinyanyikan kembali. Cantoi terbangun menyanyikan syair:
Dibuka kelambu tujuh lapis
Cantoi telah di bawa para pendekar
Mungkin dikerangkengkan atau dimatikan
Wahai bapak penguji/pembimbing ujian sampai disini ceritanya.

Kalau lah ada bapak sumur di ladang
Boleh lah kita menumpang mandi
Kalah lah ada umur kita sama-sama panjang
Lain kesempatan di sambung lagi.


12. Musik perkusi tubuh; ketib jari, tepuk dada, paha, tangan (didong) dilanjutkan dengan nyanyian lagu Atjeh Tanoeh Loen Sayang serta gerak Seudati oleh pemusik di siluet belakang Jambo. (SELESAI).


E. Orisinilitas Karya
Karya teater ‘Hikayat Cantoi’ di garap berangkat dari cerita (cerpen) karya penulis yang diangkat menjadi naskah lakon monolog, dengan konsepsi garapan telah penulis uraikan di atas.
Penulis sangat tertarik dengan gerak dasar Seudati, dan ingin menciptakan gerak tersebut menjadi blocking (perpindahan pemain) dalam konsepsi pertunjukan teater. Gerak dasar Seudati, guel, didong maupun nyanyian Hikayat dapat menjadi konvensi (aturan/hukum) bagi masa depan teater Indonesia.
Hal ini dilakukan untuk mengawinkan konsepsi teater tutur P.M.T.O.H Aceh dengan teater modern dalam melahirkan pertunjukan “Hikayat Cantoi”, sehingga memiliki genre (gaya) tersendiri yang berbeda dengan gaya (Alm) Teungku Adnan, Ali Meukek, Mak Lapei, Muda Belia dan Agus Nuramal.

F. Pendukung Karya ‘Hikayat Cantoi’

TIM PRODUKSI:
Pimpinan Produksi : IDN. Supenida, S.Skar
Stage Manager : Enrico Alamo, S.Sn
Bendahara : Sri Wahyuni, S.Sn
Dokumentasi : Aprizal Harun, S.Sn
Publikasi : Sahrul N, S.S., M.Si
Konsumsi : Hasnah Sy. S.Pd., M.Sn
Transportasi : Drs. Jufri., M.Sn
: Nedy Winuza, S.Kar., M.Sn


TIM ARTISTIK :
Naskah/Sutradara : Sulaiman Juned
Aktor : Azhadi Akbar
Skenografi : Yusril, S.S., M.Sn

Penata Seting/Properti : Adriyandi., S.Sn
: Dek Jal Aceh
Penata Cahaya : Saaduddin, S.Sn
: Nolly
Penata Busana/Rias : Dedy Dharmadi, S.Sn
: Marlina, S.Sn
Penata Suara : Dharminta Soeryana, S.Sn
Penata Musik : IDN. Supenida, S.Skar
Pemusik : Andy Ruspiansyah
: Rahma Diana
Kru Panggung : Fikar Aceh
: Zulfikar Aceh
: Ridwan Aceh
: Yudi Kardi













GLOSARIUM

1. P.M.T.O.H: Teater tutur yang berasal dari Aceh Selatan. Dikembangkan oleh Teungku Adnan sampai di kenal di Trieng Gadeng Pidie, dan seluruh Aceh.
2. Spektakel : setiap benda yang berada di atas panggung atau bahasa panggung seperti; aktor, seting/properti, cahaya, rias, gerak, dan busana.
3. Playwright : naskah lakon sebagai ungkapan pernyataan penulis.
4. Audio : Pendengaran.
5. Visual : Penglihatan.
6. Kenetsic : Gerak.
7. Hikayat : Karya sastra Aceh berbentuk puisi yang panjang.
8. Poh tem/Peugah haba : berbicara atau pekerjaan seseorang yang bercerita.
9. Dangderia : Satu bentuk seni tutur Aceh.
10. Konvensi : Hukum/Aturan.
11. Movement : Pergerakan.
12. Blocking : Perpindahan pemain (aktor).
13. Seudati : Satu bentuk teater tradisional Aceh.
14. Didong : Satu bentuk teater tradisional Aceh.
15. Guel : Sendratari tradisional Gayo Aceh.
16. Koor/korus : tokoh yang dapat berfungsi menjadi pemusik, penasehat, rakyat, pendekar dan maling.
17. Soliloqui : bentuk monolog yang berdiri sendiri dalam bentuk naskah. Ia merupakan adegan dari naskah yang sedang dimainkan.
18. Jambo : Dangau di tengah sawah, atau pos keamanan yang berada di tengah-tengah kampung (desa).
19. Teungku : Gelar atau sebutan kepada Ulama di Aceh.
20. Cuma : Panggilan untuk kakak dari Ibu.
21. Hand Prop : Benda yang berada atau di pakai di tangan oleh aktor, seperti; rokok, korek, senjata, pesawat, bingkai dan cangkul.


DAFTAR PUSTAKA

A.Adjib Hamzah., 1984. Pengantar Bermain Drama. CV Rosda Bandung

Agus Noor., 2006. Monolog, Aktor di Panggung Teater. Harian Kompas
Jakarta: 26 Maret 2006

Budiman Sulaiman., 1988. Kesusastraan Aceh. Unsyiah Press Banda Aceh

Herwanfakhrizal., 1996/1997. Ekspresi dalam Seni Teater. Jurnal Ekspresi
Seni Program Studi Pascasarjana UGM, 1996/1997

Margaret J. Kartomi., 2005. dalam Asvi Warman Adam, Peneliti Musik Aceh
Pasca Tsunami, Harian Kompas Jakarta: 18 Desember 2005

Rahman Sabur., 2003. Pengantar Drama Monolog Enam Tuan Arthur S.Nalan
Etno Teater Bandung

Sulaiman Juned., 1999. Teater Tutur Aceh: Adnan P.M.T.O.H Trobadour yang
Menulis di atas Angin. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padang
Panjang

VCD Hikayat Malem Dewa. Produksi Jurusan Teater STSI Padangpanjang, 1998















*) Biodata Sulaiman Juned


Sulaiman Juned, pernah memakai nama pena Soel’s J. Said Oesy
Lahir di Gampong (desa) kecil Usi Dayah Kecamatan Mutiara Kab
Pidie, Nangroe Aceh Darussalam, 12 Mei 1965. Kini memiliki istri
dan seorang putra laki-laki. Menetap di Padangpanjang, menekuni
pekerjaan sebagai Seniman, dosen tetap jurusan seni teater di STSI Padangpanjang Sumatera Barat, Dosen Ahli di FKIP/Bahasa dan
Sastra Indonesia Daerah di Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat,
Guru teater di SMA Negeri 1 Sawahlunto Sumatera Barat, Guru
teater di SMA Negeri 1 Padangpanjang Sumatera Barat, Guru Kesenian serta Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Sore Padangpanjang. Mulai menulis sejak tahun 80-an, ketika masih belajar di SLTP. Karya puisi, cerpen, esai, drama, reportase budaya, artikel, kolom di muat di media seperti; Santunan, Serambi Indonesia, Kiprah, Aceh Post, Peristiwa, Kalam, Ceurana, Warta Unsyiah, Ar-Raniry Post, Aceh Ekspres, Aceh Kita, Harian Aceh, Harian Aceh Independen, Gema Baiturrahman (ACEH). Analisa, Dunia Wanita, Waspada (MEDAN). Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Padang Ekspres, Majalah Saga, Laga-laga, Jurnal Palanta, Jurnal Ekspresi Seni (SUMATERA BARAT). Riau Post (RIAU). Indefendent (JAMBI). Lampung Post (LAMPUNG). Kedaulatan Rakyat (YOGYAKARTA). Solo Pos dan Jawa Pos (JAWA TENGAH). Suara Karya Minggu, Republika, Media Indonesia, Kompas, Koran Tempo, Majalah Sastra Horison (JAKARTA). Majalah Bahasa dan Sastera (MALASYIA dan BRUNEI DARUSSALAM). Antologi puisi tunggal berjudul ‘Riwayat’ mendapat Juara III dalam Lomba Penulisan buku pengayaan sastra tingkat nasional oleh Pusat Perbukuan Dinas Pendidikan Nasional (2007). Lelaki berkumis ini menyelesaikan studi S-1 di jurusan seni teater STSI Padangpanjang dengan yudisium Cumlaude, juga menyelesai Program Pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta dengan yudisium Cumlaude.
Puisinya juga terkumpul dalam antologi bersama; Podium (Aceh, 1990), Bunga Rampai Pariwisata (Pustaka Komindo, Jakarta 1991), HU (Teater Kuala, Banda Aceh 1994), TTBBIJ (Medan, 1995), Ole-Ole (Cempala Karya Aceh, 1995), Teriak Merdeka (Fak. Hukum UNSYIAH, 1995), Surat (Kuflet Padangpanjang, 1998), Dalam Beku Waktu (NGO HAM-Aceh, 2002), Takdir-Takdir Fansuri (kumpulan esai, DKB Aceh 2002), Mahaduka Aceh (Pusat Dok. HB Jassin Jakarta, 2005), Syair Tsunami (Pustaka Jaya, Jakarta 2005), Ziarah Ombak (Lapena Aceh, 2005), Lagu Kelu (ASA-Japan, 2005), Riwayat (PUSBUK-DIKNAS, Jakarta 2007), Surat: Catatan Merah-Putih, Kuflet 2007), 181-4 Lalu Debu (Kuflet Padangpanjang, 2007). Antologi Cerpen ‘Joglo’ (Solo, 2006), Tiga Drama Jambo (antologi naskah lakon, 2005). Sementara naskah lakon yang ditulisnya; Desah Nafas Mahasiswa (1989), Pulang (1990), Warisan (1991), Orang-orang Marjinal (1992), Ikrar Para Penganggur (1999), Jambo “Luka Tak Teraba” (1999), Jambo “Beranak Duri Dalam Daging’ (1999), Jambo “Bunga Api Bunga Hujan” (2000), Jambo “Ayam Jantan’ (2000), Hikayat Cantoi (2000), Orang-orang Rantai (2001), Polan (2002), Berkabung (2004), Asalku Benar dari Hulu (2004), Sebut Saja Aku Polan (2005), Hikayat Pak Leman (2005). Sering mengikuti seminar sastra, teater dan jurnalistik; Pertemuan Sastrawan Kampus se- Indonesia di Universitas Diponegoro (1989), Temu Sastrawan Kampus se-Indonesia di Universitas Cendrawasih Irian Jaya (1991), Temu Sastrawan Kampus se-Indonesia di Universitas Indonesia Jakarta (1993), Temu Sastrawan Sumatera di Bengkulu (1992), Temu Sastrawan Sumatera di Nusantara di Langsa Aceh (1995), Pertemuan Sastrawan Nasional dan Nusantara IX di Kayutanam-Sumatera Barat (1997), Pertemuan Teater Indonesia di Pekan Baru (1997), Pertemuan dan latihan jurnalistik tingkat nasional di Jakarta (1990).
Ia juga sering terlibat dalam dunia musik, sebagai pemusik dan pembaca puisi dalam ‘Desain Struktur’ Komposer; Drs. Wisnu Mintargo, di Teater kecil STSI Surakarta (1998), ‘Signal Lima’ Komposer IDN. Supenida,S.Skar di Gedung Boestanoel Arifin Adam STSI Padangpanjang (2004), Skenografi dalam Orkestra ‘Simarantang Karya/Komposer Drs. Yoesbar jailani (Festival Kesenian Indonesia III, Surabaya 2004). Soel juga aktif dalam organisasi seni dan pers; sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Aceh (1998-2000), Ketua Bidang Humas Lembaga Penulis Aceh (1995-2000), Ketua Bidang Pengkaderan Federasi Teater Banda Aceh (1995-2000), Sekretaris Umum Lembaga Seni Aceh (1990-1997), Pendiri/pimpinan Sanggar Seni Cempala Karya Banda Aceh (1989), Ketua UKM. Kesenian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (1986-1988), Pendiri UKM-Teater Nol Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (1989), Pendiri Teater Kosong Banda Aceh (1993), Pendiri Teater Alam Banda Aceh (1995), Pendiri/Pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang-Sumatera Barat (1997-Sekarang). Pemimpin Redaksi Bulettin Ceurana (1986-1989), Redaktur Budaya/Sekretaris Redaksi Warta Unsyiah (1987-1995), Redaktur Budaya SKM. Peristiwa (1989-1995), Redaktur Budaya Majalah Kiprah (1990-1997), Redaktur/editor jurnal Palanta STSI Padangpanjang (1999-2000), Redaktur/editor jurnal Ekspresi Seni STSI Padangpanjang (2000-2005), Ketua UKM-Pers STSI Padangpanjang (1997-1999), Pemimpin Redaksi Majalah Laga-Laga STSI Padangpanjang (19977-1999).
Soel sangat aktif dalam dunia teater, baik ketika masih di Aceh maupun ketika bermukim di Padangpanjang, ia sudah memainkan 250 judul naskah lakon baik naskah luar negeri maupun dalam negeri, ia berperan jadi aktor menjadi tokoh yang tanpa dialog sampai menjadi tokoh utama. Sudah menyutradarai 152 judul naskah lakon baik dari karya penulis dunia-nasional-daerah. Dewasa ini Soel hanya mau menyutradarai naskah lakon yang ditulisnya atau naskah lakon yang diproduksi oleh rekan-rekannya di komunitas Kuflet. Teater-Sastra-Jurnalistik telah membawanya mengelilingi Indonesia; Aceh-Medan-Padang-Riau-Jambi-Palembang-Bengkulu-Lampung-Jakarta-Yogyakarta-Solo-Jawa Timur-Bali-Sulawesi-Kalimantan-Irian Jaya. Menjadi seniman memang sudah pilihan hidupnya, kalau mengenang Soel pasti menyebutnya si Penyair-Dramawan-Teaterawan dan Jurnalis. Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 18 Januari 2008 pukul 16.00 Wib rumah kontrakannya terbakar di Padangpanjang-Sumatera Barat. Seluruh dokumentasi pribadi; baik buku-kliping koran tentang proses kreatifnya menjadi seniman- CD pertunjukan teater beserta barang berharga lainnya ikut terbakar, tak ada yang selamat, namun Sulaiman Juned itu tetap kuat menjalaninya bersama istri dan anak serta seluruh keluarga besar Komunitas Seni Kuflet. ‘Semuanya yang saya miliki milik Allah, jadi kita harus siap dan redha kalau Allah mengambilnya kembali, diri kitapun sebenarnya kan milik-Nya jua’ tuturnya. (Wiko Antoni)

1 komentar:

Zahra Khairunnisa mengatakan...

Saat pemain dihadapkan pada tuntutan peran dalam kondisi batin yang gelisah dalam sebuah pertunjukan monolog, manakah eksplorasi blocking yang tepat?

Tokoh diam dan melihat ke segala arah? / tokoh diam dan hanya memandangi satu arah? / tokoh bergerak dan melihat kesekeliling?/ tokoh bergerak dan memandang satu arah?/ tokoh bergerak tidak melihat apapun?