PADANGPANJANG-SUMATERA BARAT
Sekretariat: Jln. Bundo kanduang No.35 Padangpanjang HP.081393286671 Email:sjdoesy@gmail.com

Jumat, 23 Januari 2009

Milleniart: Keragaman Budaya

MILLENIART: KERAGAMAN BUDAYA MENGALIR
DARI TAMAN SARI TIRTAGANGGA, BALI

Oleh: Sulaiman Juned


Di Tirtagangga, seniman mencoba menciptakan ruang
Pertukaran pengalaman dan gagasan untuk pencarian, memandang
Wacana kebudayaan baru.



Prolog
Festival dan temu ilmiah Masyarkat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) yang mengacu pada nilai-nilai seni dan keragaman budaya pertunjukan Indonesaia diselenggarakan di suatu tempat suci orang Bali yang di sebut Taman Air Tirtagangga yang membelah kawasan timur Bali. Tirtagangga mempunyai arti secara leksikal yaitu “air (sungai suci) Gangga”, Anak Agung Ang Lurah Ketut Karangasem yang merupakan raja Karangasem terakhir (sekitar tahun 1948) sebagai arsitek taman itu, terilhami oleh tempat suci umat Hindu semacam sungai Gangga di India. Bangunan ini bergaya arsitektur Bali, China dan Erofa.
Sungai suci itu, mempunyai tiga kawasan (kompleks), bagian yang pertama yag terendah ada kolam dan sebuah menara air bersusun sembilan menjadi land mark taman ini. sementara bagian tengah terdapat kolam wanita. Bagian atas terdapat pura air yang berdiri megah sebagai tempat peristirahatan keluarga. Hal yang membuat kita berdecak kagum, bila sepasang mata tertuju ke sudut-sudut taman menyaksikan proferti patung-patung hewan mitologis seperti; lembu, naga, singa, garuda dalam bentuk raksasa yang mengeluarkan air tak henti dari mulutnya. Menara air yang bersusunsembilan tersebut menambah keunikannya dengan mengalirkan air semakin jauh tanpa di bantu alat generator.
Pola perkampungan (desa) dan arsitekturnya mengingatkan kita pada abad XVI, desa tua dengan kelompok-kelompok bangunan rumah lewat tataan lingkungan mengikuti aturan adat. Itulah yang kita temui di Tirtagangga desa Ababi, Kecamatan Abang Karangasem, Bali. Disitulah diadakakan ‘perayaan asal, penghargaan pada keragaman budaya’ yang dimotori oleh Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) dari tanggal 9 s/d 14 September 1999. Di Tirtagangga seniman mencoba mencipatakan ‘ruang’ pertukaran pengalaman dan gagasan untuk pencarian atau memandang wacana kebudayaan baru.

Pluralitas Budaya Berorientasi Relasi Budaya
Penegasan hidup dalam pluralitas budaya berorientasi pada nilai, sikap, dan tingkah laku. Berbagai bentuk ekspresi budaya dalam menghadapi millenium ketiga, sebagai seniman harus mempersoalkan masalah eksistensi dan segala pendukungnya di tengah keberagaman budaya. ‘perbenturan’ budaya dalam ruang dan waktu seakan menjadi pertukaran dan saling mengisi ke dalam budaya masing-masing etnis yang terlibat pada event itu, sehingga tidak terjadi perasaan etnosentris yang menagung-agungkan nilai budaya satu etnis saja. Kesadaran akan pluralitas budaya dianggap mampu menciptakan pemikiran keberadaan masa depan seni pertunjukan Indonesia, dan selain itu dapat pula mendorong para pemikir seni, memikirkan pengkajian lintas budaya (cross culture) dengan studi multi disiplin ilmu yang akhirnya melahirkan para etnomusikolog, etnolog tari, dramatug teater, kritikus seni pertunjukan dan lain sebagainya.
Indonesia dikenal dengan kekayaan ragam budaya, karena itu pula dalam relasi antar budaya hendaknya harus menghindarkan diri dari pemutlakan orientasi lokal yang mengutamakan warna suatu kebudayaan tanpa menghargai eksistensi tradisi seni etnis lain. Tradisi seni suatu etnis yang sangat kecil sekalipun tak boleh dilecehkan oleh suatu kebudayaan yang lebih besar. Itulah yang harus didasariuntuk dihindarkan sebagai cerminan demokrasi dalam kebudayaan manusia, hal ini harus diperjuangkan untuk kebersamaan oleh para pemerhati, ahli dan praktisi seni yang hidup dialam pluralistik.

Kajian dan Temu Ilmiah
Pertemuan yang menyikapi secara bijak masa transisi yang krusial untuk menuju era Indonesia baru. Melalui kesadaran ruang dan waktu antara komunitas kesenian dalam mencari kemungknan baru persentuhan budaya. Disamping itu, kajian tentang teater yang lebih tepatnya tentang ekologi teater Indonesia, tentu mengarah kepada pergolakan teks pertunjukan untuk membuat apresiasi dalam era kehidupan berkesenian (teater) dalam konteks saling membutuhkan.
Menyaksikan pertunjukan dan memahami sesuatu yang ditawarkan agar teater tidak lagi mengikat pada konvensi pertunjukan teater modern (Barat), tetapi dapat dilihat dan dinikmati pertunjukan yang kembali ke zaman Yunani Kuno, kecenderungan teater diaktualisasikan dengan isu-isu kekinian. Tentu kita akan berharap bahwa, kajian teater Indonesia benar-benar dapat menjadi teater Indonesia bukan meng-Indonesiakan teater Barat. Berangkat dari pemahaman itulah, teater Indonesia perlu berakar ke teater tradisi (Rakyat) yang bukan dalam arti mentransformasikan langsung ke dalam jiwa teater modern Indonesia. Inilah fenomena kesenian yang dianggap dapat memperluas kemungkinan baru dalam sebuah pengungkapan seni yang berada dalam frame global dan lokal. Hidup dalam pluralitas budaya menambah wawasan dan orientasi nilai, sikap, tingkah laku secara terus-menerus harus saling menghargai dan menghormati warna kebudayaan lain dengan tidak mengutamakan warna kebudayaan tertentu kepada orang lain.
@ TIRTAGANGGA-BALI, 1999

Tidak ada komentar: