PADANGPANJANG-SUMATERA BARAT
Sekretariat: Jln. Bundo kanduang No.35 Padangpanjang HP.081393286671 Email:sjdoesy@gmail.com

Jumat, 23 Januari 2009

Sandiwara Gelanggang Labu

KONFLIK DI ACEH:
SANDIWARA KELILING GELANGGANG LABU TERANCAM PUNAH

Oleh: Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn

Pemain sandiwara keliling gelanggang labu
tidak pernah belajar dramaturgi, ilmu pemeranan, ilmu penyutradaraan
secara formal, mereka memperoleh keahlian secara non-formal
namun mampu mensugestif penonton.


Gelanggang Labu meruapakan sandiwara keliling tradisional Aceh. Sandiwara keliling sudah ada sejak tahun 1950-an. Sandiwara ini mulai tumbuh dari sebuah desa di Aceh Utara, tapatnya di Panton labu. Ketika teater ini mulai merakyat, dan diterima ditengah-tengah masyarakat lalu dijulukilah dengan istilah Gelanggang Labu. Awal tahun 70-an mulai menjamur grup-grup sandiwara di seluruh Aceh, diantaranya yang terkenal, seperti; Benteng Harapan, Jeumpa Aceh, Sinar Jeumpa, Sinar Desa, Sinar Harapan, Mutiara Jeumpa, Seulanga Dara, Cakradonya, dan Geunta Aceh.
Ciri-ciri pertunjukan Gelanggang Labu memiliki kesamaan yang kontras dengan ‘Komedi Stamboel’ yang dilakukan August Mahieu (1860-1906). Hal ini dapat dilihat dari reportoar yang dipilih, sama-sama mengangkat cerita 1001 malam dari hikayat-hikayat Aceh (haba), seperti; Buloeh Peurindu, bawang mirah ngoen bawang puteh, Ahmad Rhangmanyang, Putroe Ijoe, dan lain-lain. Ciri-ciri yang mendasar, sebelum permainan dimulai para aktornya memperkenalkan diri sekaligus dengan peran apa yang dia mainkan. Pembagian babak atau episode dilakukan sangat longgar dengan adanya selingan antar babak yang diisi dengan nyanyian (band), lawak, serta tari-tarian. Adegan-adengan gembira atau sedih dalam gelanggng labu memang dilakukan dengan dialog bukan dengan opera (nyanyian) seperti dalam komedi stamboel. Cerita-cerita yang akan dimainkan oleh pelakonnya hanya diceritakan secara garis besarnya saja kepada pemain (wos), dan lebih banyak pemain yang melakukan improvisasi. Sebagai aktor dipentas sandiwara keliling harus mampu menjadi penyanyi, pelawak dan penari sekaligus.
Sementara bentuk pemanggungannya, sandiwara keliling Gelanggang Labu sangat sederhana dengan konstruksi panggung berukuran 9X6 meter didirikan menggunakan drum kosong yang di atasnya diletakkan papan, seng sebagai atap, batang kayu sebagai penyangga, triplrk untuk dinding, kain yang dilukis sebagai dekorasi sesuai tuntutan cerita dan lampu reflektor kecil untuk penerang dan pengubah suasana. Lokasi pertunjukan biasanya dlakukan di tanah lapang, ditengah areal sawah setelah usai panen padi. Grup sandiwara ini hidup dan beranak-pinak di dalam panggung tersebut (berumah), mereka melakukan keliling ke seluruh Aceh, dan berdiam (melakukan pertunjukan) di suatu daerah minimal dua bulan setelah melakukan perjalanan dan menetap didaerah lain.
Umumnya pemain sandiwara keliling Gelanggang Labu tidak pernah memiliki atau mempelajari dramaturgi secara formal. Semuanya mengalir begitu saja dengan pengetahuan otodidak yang mereka miliki. Rata-rata latar belakang pendidikan mereka hanya sampai Sekolah Dasar. Maka tidak heran bila siang hari mereka bergaul dengan masyarakat dimana mereka melakukan pertunjukan, bahkan ada yang menjadi buruh kasar di tempat itu. Ibnu Arhas (Sekarang mantan Anggota DPRD Kabupaten Pidie), seorang aktor yang pernah melakukan pertunjukan di Takengon, waktu itu siang hari ia berperan sebagai buruh pemetik kopi dengan pakaian kumal. Namun pada malam hari dia tampil sebagai maha bintang di atas panggung, dipuja-puji oleh penonton, setiap dia muncul selalu saja mendapat aplous dari penonton. Keterbatasan ilmu tentang bermain drama bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap terus bertahan. Umar Abdi, Ahmad harun, Yusuf Syam, serta Idawati merupakan tokoh-tokoh teater keliling yang sadar betul atas kekurangan mereka, lalu melakukan pembaharuan agar masyarakat penonton tidak bosan. Mereka menciptakan tema-tema cerita baru yang digemari masyarakat, seperti tragedi rumah tangga, pengkhianatan, kemunafikan, masalah ambisiusnya manusia. Ide atau gagasan untuk memperolehnya bagi mereka (sutradara) teater keliling tidaklah sulit, mereka dekat dengan masyarakat sehingga tahu persis tentang peristiwa yang muncul ditengah masyarakat. Sutradara mengangkat realitas sosial yang tumbuh dan hidup dimana mereka melakukan pementasan, lalu diadopsi menjadi cerita yang menarik lewat kekuatan improvisasi para aktornya.
Keunggulan inilah yang membuat teater keliling ini mampu bertahan hidup dan memperoleh sambutan hangat dari penonton di seluruh Aceh. Cerita yang ditampilkan selalu aktual dan kontekstual dengan daerah dimana mereka melakukan pertunjukan. Misalnya, cerita Cut Maruhoi diperankan Ahmad harun (lelaki yang menjadi wanita) mengisahkan tentang seorang ibu mertua yang cerewet, jahat dan sadis. Ahmad Harun benar-benar mampu masuk ke dalam penokohan Cut Maruhoi, sehingga nama tersebut begitu melekat dan populer di tengah masyarakat Aceh. Bahkan dalam pergaulan sehari-hari Ahmad harun sering di panggil Cut maruhoi.

Sengketa Tak Berujung: Kesenian Jadi Saksi
Gangguan keamanan di Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD) yang mulai pecah pada tahun 1989, sangat terasa dampaknya bagi perkembangan insan seni untuk m elakukan kreatifitas berkesenian. Aceh yang memiliki teater tradisional atau teater tutur, seperti; P.M.T.O.H, Dangderia, Dalupa, Didong, Guel dan Sandiwara keliling Gelanggang Labu mulai terusik untuk berproses. Kemandekan kehidupan panggung keliling sangat terasa karena sering di cekal oleh Pemda dengan cara tidak memberi izin pertunjukan, alasannya gangguan keamanan. Seruan ini dikeluarkan PEMDA Aceh karena beberapa pertunjukan sebelumnya di daerah-daerah rawan konflik sering terjadi. Pertunjukan sirkus di Lhoekseumawe pada tahun 1989 sempat menimbulkan kekacauan, dan panggung artis ibukota Dina Mariana pada tahun 1990 sempat di bakar oleh gerombolan tak di kenal. Mengigat hal itulah pertunjukan sandiwara keliling ‘Geunta Aceh’ pimpinan Umar Abdi pada pertengahan tahun 1991 di desa Blang Malu Kecamatan Mutiara Pidie, batal melakukan pertunjukan karena izinnya dicabut, juga karena ada operasi militer malam. Maka, banyak panggung sandiwara keliling pada dekade 90-an terpaksa tutup sehingga pemaiannya banyak yang menganggur. Sebagian terpaksa pulang kampung menjadi petani atau buruh kasar.
Awal dekade 1992, kondisi keamanan agak sedikit kondusif, empat tokoh seniman teater keliling; Umar Abdi, Yusuf Syam, Ahmad Harun, dan Idawati mencoba kembali membangun panggung keliling. Situasi semakin membaik, dan pertunjukan di beberapa kota Aceh Utara, Aceh Besar, Aceh Tengah dan Sabang mulai diizinkan untuk melakukan aktivitasnya kembali.
Suasana seperti itu, ternyata tidak bertahan lama. Tahun 1998 dengan berhasilnya gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa seluruh Indonesia untuk menumbangkan Orde Baru, kenyataannya menjadi lain. Daerah Istimewa Aceh kembali bergolak, dan GAM (Gerakan Atjeh Merdeka) kembali bergerak, mahasiswa serta ulama dayah se-Aceh menuntut referendum . TNI dan POLRI kembali menjalankan operasi. Kondisi Aceh kembali mencekam dan tak menentu, suasana yang tak menentukan itulah menyebabkan izin pertunjukan tidak dapat diberikan kepada sandiwara keliling Gelanggang labu, lagi-lagi dengan dalih keamanan. Nah, menurut amatan penulis dari tahun 1998 hingga sekarang 2009, tidak pernah terdengar di Aceh ada pertunjukan Sandiwara keliling Gelanggang Labu dipentaskan. Grup-Grup yang pernah jaya, seperti hilang di telan bumi, seniman-seniman panggung terpaksa beralih profesi, seperti; menjadi penjual ikan, petani, buruh kasar dan lain sebagainya demi menghidupi keluarganya. Kemandekan kehidupan panggung y ang disebabkan oleh gangguan keamanan betul-betul membuat para pelakon, kru panggung dengan seluruh awaknya kehilangan pekerjaan tetap yang telah diyakininya berpuluh-puluh tahun pekerjaan itu mampu menghidupi keluarganya.
Sementara disisi lain, daerah Aceh secara tidak langsung telah memusnahkan kekayaan kseniannya. Betapa tidak, bila hal ini terjadi terus-menerus teater keliling Aceh hanya tinggal nama sebab tak ada lagi pewarisnya. Bila tak ada pemanggungannya secara otomatis para aktor panggung keliling semakin lanjut usia dan tak ada yang mampu mewarisinya untuk melanjutkan grup-grup sandiwara keliling. Sengketa yang terjadi di tanah rencong tidak hanya menelan korban manusia, namun yang lebih menyedihkan dapat menelan sisi kebudayaan dan kesenian.jangankan sandiwara keliling Gelanggang Labu, denyut nadi Taman Budaya Aceh juga ikut terkena imbasnya. Taman Budaya Aceh sejak tahun 1970-an sampai 1997 aktif melaksanakan pertunjukan teater modern Indonesia di Aceh tiap bulan, seperti; Teater Mata pimpinan Almarhum Maskirbi, Teater Bola pimpinan Almarhum Junaidi Yacob, Teater Gita Pimpinan Junaidi Bantasyam, Teater Kuala Pimpinan Yun Casalona, Teater Peduli Pimpinan Almarhum Nurgani Asyik, Teater Alam Pimpinan Din Saja, Sanggar Cempala Karya Pimpinan Sulaiman Juned, Teater Kosong Pimpinan T.Yanuarsyah. Namun awal 1998 pertunjukan teater Modern Indonesia di Aceh mulai hilang denyutnya. Hal ini disebabkan karena gangguan keamanan.
Denyut nadi kesenian Aceh seperti terhenti. Taman Budaya sepi pertunjukan. Orang-orang tak lagi membicarakan kesenian, orang-orang lebih banyak membicarakan politik, kematian dan keadilan. Hanya seniman sastra (penyair) dn pelukis yang masih terus melakukan prosesnya. Para pekerja teater banyak yang beralih profesi, ada yang menjadi penyair, dan cerpenis. Sampai kapan hal ini terus terjadi. Andaikan situasi Aceh dibiarkan larut tanpa penyelesaian akhir, maka Aceh secara global akan kehilangan seni budayanya yang sangat kaya tersebut. Kita rindu tokoh Cut Maruhoi muncul di atas panggung, rindu lawakan yang menggelitik dari si Ma’e (Ismail) yang mampu melahirkan derai tawa. Rindu Idawati Sri panggung sandiwara keliling yang mampu menjadi aktris, penyanyi sekaligus pelawak bahkan mampu menari. Namun kini dimana mereka para punggawa sandiwara keliling Gelanggang Labu bermuara. Apakah mereka ikut terkena imbas konflik panjang di Aceh, atawa mereka tergerus air raya (Tsunami) beberapa tahun yang lalu pada 26 Desember 2004. Konfliks-Tsunami-sengketa tak pernah reda mengancam seni budaya Aceh pada nadir kepunahan.
Pasca konflik dan tsunami, apakah seni-seni tradisional yang maha agung itu akan hidup, atau seni Aceh tersebut akan ikut terkubur bersama ratusan ribu rakyat Aceh yang entah dimana makamnya. Generasi muda Aceh sekarang ini pasti banyak yang tidak kenal lagi; Dangderia, Peugah Haba, Poh Tem, Dalupa, Pho dan lain-lain. Rekan-rekan seniman, pihak yang terkait, para intelektual seni, PEMDA NAD mari duduk bersama; bicarakan tentang pentingnya mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi Seni di Aceh. Nanggroe Aceh Darussalam. Aceh meusyuhu (dikenal) di Mancanegara karena senibudayanya, seperti; Didong, Saman, Seudati, tari Pho, Rapa’i Geleng, P.M.T.O.H dan lain-lain. Kenapa masyarakat Aceh sendiri enggan untuk mempertahankan budaya bangsa. Ini buat kita renungkan bersama. Mari!
@ Rumah kontrakan, Padangpanjang-Sumatera Barat

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Saya dulu pencinta Sandiwara Sinar Jeumpa dan Geulanggang Labu. Dulu masa kecil saya Sandiwara sangat dicintai masyarakat desa dan merupakan kesenian yang sanag populer saat itu, Saya masih ingat dan sangat tertarik dengan penampilan pemain sandiwara spt Ahmad Harun alias Cutma Ruhoi, Ibnoe Arhas, Yusuf Syam, H.Djamaluddin Arsyad, A. Hamid Mahmud alias Ayah Hamid, Umar Abdi dan Istrinya Idawati, Abdullah Lapanploh, Ismail Kakek, Nasruddin Jamal, Rajab Jauhari, Saiful Rona, Mustafa Kamal, Nasil salasa dan banyak lagi yang lainnya. Selamt tinggal sandiwara di Aceh.

narcisxiao mengatakan...

Lucky Creek Casino - Mapyro
Find out what's popular 원주 출장샵 at Lucky Creek 강릉 출장마사지 Casino in Maricopa, AZ in real-time and see activity. How 논산 출장마사지 are Lucky Creek Casinos 성남 출장안마 rated?What days are Lucky Creek 이천 출장마사지 Casinos open?