PADANGPANJANG-SUMATERA BARAT
Sekretariat: Jln. Bundo kanduang No.35 Padangpanjang HP.081393286671 Email:sjdoesy@gmail.com

Senin, 25 Mei 2009

KOLOM REFLEKSI dan DETAK JAM GADANG

REMAJA DAN SITUS PORNO
Oleh: Sulaiman Juned


Teknologi internet jika ditilik dari satu sisi memudahkan untuk menambah ilmu pengetahuan. Manusia tidak perlu lagi berada di Amerika, Arab atau Eropa untuk mengetahui tentang antropologi dan sosiologi budayanya. Cukup mampir di Warnet lalu membuka situs tersebut otomatis pula kita sudah berdiwana ke negeri tersebut.
Siswa dan mahasiswa yang diberikan tugas oleh guru dan dosennya, juga mudah mengakses literature tentang apa saja, ada di internet. Bahkan di zaman ini, ada siswa dan mahasiswa hanya melakukan copy paste saja dari internet setiap tugas yang dintruksikan oleh guru dan dosennya. Sungguh suatu kemudahan yang tak terpikirkan sebelumnya.
Begitu juga, diinternet bertebaran situs-situs ilmu pengetahuan, seperti; ilmu teater-sastra-filsafat-agama-hukum-ekonomi-sosiologi-antropologi-politik-psikologi-kependidikan dan bahkan sampai ke situs porno. Luar biasa!
Situs porno! Ini yang menggelisahkan banyak kalangan, baik orangtua-guru-tokoh pendidikan sampai dengan pakar psikologi. Surat kabar dan televise beberapa waktu yang lalu menyiarkan berita menyedihkan ini. Remaja kita yang sedang belajar di sekolah, masih memakai celana biru dongker pendek, dan bahkan ada pelajar yang masih memakai celana berwarna merah pendek sudah keranjingan situs porno.
Wah, ini penyakit masyarakat yang membahayakan dunia pendidikan, apalagi menurut laporan NRC Report yang dilansir hareian Haluan beberapa waktu lalu, 90 persen remaja kita mengkonsumsi situs porno. Awalnya memang tidak sengaja, namun pada akhirnya menjadi ketagihan.
Jika remaja yang belum memiliki pendidikan seksual secara benar, menyaksikan situs-situs porno. Maka dalam imaji mereka setiap waktu berhayal dan bermimpi ingin melakukan aksi seperti apa yang mereka saksikan di situs tersebut. Nah! Andaikan benar, apa yang dipublikasikan tersebut, apa jadinya mentalitas dan psikologis generasi pelurus bangsa dan negara ini. Dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan, negara dan bangsa ini akan digawangi oleh remaja yang hari ini keranjingan situs porno.
Teknologi internet, memang suatu yang tak dapat dielakkan atau ditinggalkan, jelas sangat banyak faedah dan manfaatnya disamping ada juga mudharatnya. Pemerintah Indonesia sudah saatnya melakukan tindakan terhadap dampak negative situs porno.
Mungkin dengan membentuk tim internet sehat nasional, yang dapat menerima laporan dari masyarakat untuk melakukan tindakan hokum secara teknologi. Boleh juga dengan mengontrol atau mengunci situs-situs porno shingga tidak sembarangan orang boleh membuka. Seperti yang dilakukan Negara Arab-Turki-Mesir-Iran. Mereka mengunci situs porno, barangsiapa yang ingin membuka situs porno harus menuliskan data secara lengkap di internet beserta umurnya, lalu tim internet sehat mengecek sampai ke rumah-rumah, apa benar nama yang tertera itu berusia dewasa? Atau seperti di Swedia barangsiapa yang ditemukan sedang menontopn situs porno langsung digiring ke pengadilan sekaligus di hokum kurungan penjara. Ini sangat menarik untuk menjadi pembelajaran buat bangsa kita.
Tidak salahnya kita mencontoh mereka demi kebaikan anak bangsa yang nanti akan menjadi pemimpin masa depan negeri tercinta. Jika hal ini dilakukan otomatis situs porno tidak dapat diakses secara serambangan, selalu dikontrol oleh tim internet sehat nasional. Sekaligus pula remaja kita tidak terkontaminasi pikiran-pikiran ‘aneh’ yang mengantar mereka kepada mimpi-mimpi panjang tentang hayalan. Selanjutnya pendidikan seks harus diberikan kepada para remaja gaar mengetahui untung ruginya. Semoga kita mampu mengontrol remaja Indonesia, menjadi remaja yang cerdas dan cemerlang. Semoga. (DIMUAT HARIAN UMUM HALUAN, KAMIS 16 APRIL 2009)




BENARKAH SASTRAWAN SUMBAR PEMALAS (?)
Oleh: Sulaiman Juned

Luar biasa trik yang disampaikan Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi beberapa waktu lalu dibeberapa surat kabar, tentang “Sastrawan Sumatera Barat Malas Berkarya”. Ini sebuah gelinjang yang menohok dirinya sendiri atau menepuk air didulang?
Ada tanggapan Fatris Mohammad Faiz, dan Alee Kitonanma dimuat salah satu Koran harian terbitan Padang (3/5) lalu. Ada bantahan dari Muhammad Subhan dimuat Haluan, dikolom detak jam gadang (5/5). Kesemua tulisan tersebut menolak pernyataan Gubernur yang salah menilai tentang sastrawan Sumatera Barat. Pernyataan itu, barangkali sengaja diketengahkan Gamawan untuk memancing kreativitas para sastrawan, atawa dana yang telah disediakan gubernur sebesar Rp. 5 Juta itu untuk penerbitan buku tidak pernah diambil oleh para sastrawan.
Lantas, sang bapak kita itu menilai, sastrawan Sumatera Barat pemalas. Dana sebesar itu, memang tidak berarti apa-apa untuk sebuah penerbitan, buku apa yang dapat dihasilkan dengan dana sebesar itu. Sedangkan desain cover buku saja biayanya mencapai Rp. 5 Juta.
Namun para sastrawan seperti yang telah diungkapkan pleh Fatris Mohammad Faiz, Alee Kitonanma dan Muhammad Subhan, tetap saja menerbitkan karya-karyanya selain berbentuyk buku juga di media massa, seperti Majalah Horison, Majalah Bahasa dan sastra Indonesia di Brunei Darussalam dan Malaysia, majalah Gong, Republika, kompas, media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Solo Pos, Jawa Pos banyak karya sastra sastrawan Sumatera Barat dipublikasikan di sana, pernahkah bapak baca (?)
Baru-baru ini tanggal 25 April 2009 yang lalu, Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA-BASINDO) FKIP-UMSB Padangpanjang dalam rangka memperingati mengadakan Seminar Sastra Nasional. Yang paling mengharu biru, mereka tanpa dana dari PEMDA menerbitkan buku Antologi Puisi ‘Lautan Sajadah’. Kebahagian itu menjadi lengkap, sebab dari 46 penyair mayoritas penyair perempuan. Karya-karya mereka sebagai penyair pemula memang telah menampakkan kualitasnya. Lalu apakah ini juga masih berani kita sebut, sastrawan Sumatera Barat pemalas?
Sastrawan Indonesia baik yang senior maupun yang yunior mayoritas pula dikuasai oleh sastrawan yang berasal dari Sumatera Barat apalagi bila berbicara masalah eksistensi kesenimanannya, lalu atas dasar apa sang gubernur kita membuat pernyataan yang bombastis itu. Barangkali untuk mencari sensasi, pak gubernur yang mulia, sastrawan itu bekerja dengan hati nurani selain selain membaca realita social untuk dimamahnya dalam proses perenungan.
Jadi bapak gubernur yang terhormat, jika ingin mengaduk ‘lado kutu’ dalam makanan para sastrawan tentu boleh-boleh saja. Namun hendaknya datangi dulu ‘rumah-rumah’ tempat sastrawan itu berproses kreatif, seperti; di Padang ada Komunitas Seni Pelangi pimpinan Yusrizal KW, di Payakumbuh ada Komunitas Seni Intro pimpinan Iyut Fitra, sementara di Padangpanjang ada Komunitas Seni Kuflet. Mereka setiap hari berdiskusi (membaca dan menulis) tentang sastra, bahkan tanpa danapun mereka masuk ke sekolah-sekolah mengajar siswa membaca dan menulis karya sastra. Apa bapak pernah tahu itu (?) Mari berkaca pada wajah kita agar tak salah melihat bopeng orang

Tidak ada komentar: