PADANGPANJANG-SUMATERA BARAT
Sekretariat: Jln. Bundo kanduang No.35 Padangpanjang HP.081393286671 Email:sjdoesy@gmail.com

Senin, 21 Juli 2008

SURAT Soel's TO; NURGANI ASYIK DAN PELUKIS VERSEVENNY

SURAT SULAIMAN JUNED KEPADA; NURGANI ASYIK DAN PELUKIS VERSEVENNY. By: Wiko Antoni, S.Sn Ed.by:NaZent

Salam rindu-dunia akhirat ternyata tak jauh dari diri. Sebentar kita masih bersama bercerita tentang hidup-seni-kreatifitas-makna persahabatan. Ini suratku; catatan tentang pertemanan kita. Ketika Nurgani Asyik baru kembali dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta membawa ‘pergulatan pikiran’nya ke Banda Aceh, bertemu dengan Sanggar Cempala Karya Banda Aceh. Kita sama-sama melalui masa proses kreatif, lewat manis-pahit-getir-senang-duka-lara mengunyahnya bersama. Aku masih ingat bagaimana kita bersama jalan-jalan keliling kota Banda Aceh-Darussalam hanya dengan berjalan kaki, aku pahami sekarang itu sebagai proses pematangan diri. Luar biasa, masih lekat diingatanku, kita latihan meditasi-mengenal diri-mengenal Tuhan berhari-hari mengurung diri di Pantai Ulee lhee, Krueng Raya, dan Lho’nga. Malam-malam hening di dalam laut mengasah rasa-sukma. Kini aku miliki itu sebagai sebuah pemahaman keilmuan dalam membaca dunia (alam dan Tuhan).

Masih juga lekat diingatanku bang, ketika kita berproses bersama dalam menggarap naskah lakon Dunia “Persemanyaman Agung” Karya/Sutradara: M.Nurgani Asyik yang dipentaskan anak-anak Sanggar Cempala Karya Banda Aceh di Taman Budaya Aceh. Naskah itu kini sudah tak ada lagi ditanganku, abang harus tahu; aku sangat ingin mendokumentasikan naskah lakon itu yang sekaligus tertera tanda tanganmu bang. Namun apa hendak di kata, Tuhan berkehendak lain, sepulang dari S-2 rumah kontrakan kami (Aku-Istriku-anakku; kuflet komunitasku) di Pincuran Tinggi Padangpanjang-Sumatera Barat terbakar, tepatnya; Hari Jum’at, 18-1-2008 jam 16.00 WIB. Seluruh dokumentasiku habis jadi debu. Kita memang debu yang melekat di kening. Sepuluh Ribu Lima Ratus Dua Puluh Lima judul bukuku hangus, Dua Ratus lima puluh ribu keping VCD/DVD dan Audio Visual tentang teater, musik, tari, film ikut terbakar, dan di dalamnya ikut naskah lakon asli “Dunia: Persemanyaman Agung”. Maafkan aku bang, aku tak mampu menjaga amanah agar naskah abang aku persiapkan untuk pementasan di Kuflet. Sekali lagi maafkan aku. Sekarang ini, aku dan keluarga serta kuflet kembali merangkak dari nol. Sama seperti abang dan keluarga ‘kembali’ menjadi nol menuju Tuhan. Bedanya, abang dan keluarga ‘kembali’ ke alam akhirat lewat Gempa dan air raya itu (26 Desember 2004). Sedangkan aku masih di dunia yang fana ini, alhamdulillah Tuhan masih menjaga istri dan anakku-itu sudah cukup buatku, harta habis dapat dicari bang. Tuhan mungkin ingin menguji sebatas mana ‘keikhlasanku’ menjalani hidup. Seperti aku sering bicara padamu bang ketika kita sering duduk berdua; apa artinya hidup, kalau hidup tak mampu menghidupi hidup, dan apa artinya mati kalau matipun tak ada arti. Ternyata hidup dan mati harus berarti. Semoga abang berarti dalam hidup dan mati. Ini juga aku catatkan dalam surat ini tentang terakhir kali pertemuan kita, untuk ku kenang.

Aku sedikit terkejut ketika kembali dari Padangpanjang menuju Banda Aceh. Versevenny (pelukis wanita Aceh) yang istrinya Nurgani Asyik bertemu dengan saya di Taman Budaya Aceh pada tanggal 20 Desember 2004 dalam acara seminar seni. Venny mengatakan, bang Nu (begitu panggil buat Sastrawan-teaterawan-musisi-dosen UNSYIAH M.Nurgani Asyik itu) sedang dalam kondisi sakit payah, tidak mampu berbicara. Lalu pada tanggal 24 aku datang ke rumah bang Nu di Punge-Banda Aceh, aku temui beliau yang hanya mampu memandangku nanar. Matanya berkaca-kaca, ia hanya mampu mengeluarkan kata-kata ya..ya…ya… (sambil mengangguk-angguk. Sesekali air matanya mulai membasahi perjamuan kami). Aku menangis dalam hati menyaksikan abang-sahabatku seniman yang paling dekat hubungan emosional denganku, sedang dalam kondisi ‘susah’. Aku tak pernah membayangkan ini pertemuan terakhir kali kita. Pertemuan ini, membuat jiwaku remuk-redam-berkecambah di dada.

Aku ajak bang Nu berjalan mengitari Darussalam-tempat awal kami berkenalan di kantin Pak Man FKIP UNSYIAH, minum kopi lalu memasukkan kacang tojin kemudian kami ‘berkelahi’ pikiran (diskusi tentang seni di Aceh), tapi kali ini diskusi itu kami lakukan lewat mata dan hati tanpa ada suara karena bang Nu memang tak bisa mengeluarkan kata-kata. “Bang aku sekarang sudah jadi dosen (PNS) di STSI Padangpanjang” kataku dalam hati. “Ya, aku tahu itu. Mursal Esten telah mengabarkan bahwasannya ia telah menepati janjinya. Aku bangga” Jawab bang Nu dalam hati juga. Kemudian aku pacu motor ke Pantai Ulee Lhee menikmati shanset turun memeluk malam, pantai ini merupakan pantai yang terdekat dari Banda Aceh sering menjadi tempat proses kreatif kami berdua. Tengah malam dalam lapar, sebab tak punya uang sepeserpun untuk beli nasi, indo mie atau sepotong kue peganjal perut. Kami berdua sering jalan kaki dari Banda Aceh ke Ulee Lhee hanya bawa air putih, minum banyak-banyak sampai akhirnya tertidur di tepi pantai itu sampai pagi. Besoknya bang Nu menciptakan naskah lakon ‘Dunia: Persemanyaman Agung’, sedangkan aku menciptakan beberapa puisi tentang kondisi Aceh waktu itu, yang kini terkumpul dalam antologi Riwayat diterbitkan PUSBUK-DIKNAS, Jakarta 2007. Kondisi bang Nu tak mungkin berlarut dalam kenangan, ketika malam mulai merangkak aku antar bang Nu ke rumah. Jumpa Versevenny lalu kami diskusi panjang tentang seni.

Malam itu aku makan dirumah mereka, Venny sering bicara tentang ketuhanan. Aku heran kenapa ia suka mendiskusikan tentang Tuhan. Lalu aku ajak ia melakukan kolaborasi dengan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang yang aku pimpin. Venny menyetujuinya, aku punya niat untuk melakukan pentas jak saweue gampoeng (melihat kampung). Cerita punya cerita terkonseplah instalasi patung menjadi perkawinan antara gerak/dialog teater dengan seni rupa milik Venny. Konsep sudah jadi tinggal masing-masing kami melakukan pematangan.

Tanggal 25 Desember 2004 aku-istri dan anakku berangkat dari Banda Aceh menuju Usi Dayah-Beureunuen-Pidie, dikampung aku sangat dibutuhkan kehadiranku, sebab pada malamnya ada peringatan 44 hari meninggalnya Almarhumah Juhari HS, ibundaku tercinta. Para seniman Aceh, menginginkan aku membuat/membacakan pidato kebudayaan dalam acara Musyawarah Dewan Kesenian Aceh. Aku memang sangat ingin untuk melakukannya tapi apa boleh buat malam tanggal 25 Desember itu aku ada acara di kampung. Minggu, 26 Desember 2004 di pagi yang hening Aceh dilanda gempa 8,9 Skala Richter lalu Tsunami menggerus Aceh dari peta. Sore pukul 16.00 WIB aku baru tahu, Aceh dilanda ujian dahsyat. Seminggu kemudian aku dapat berita dari kawan-kawan seniman Aceh, sahabatku tercinta Nurgani Asyik-Versevenny dan tiga orang putra-putrinya ikut dibawa air raya itu. Aku tak pernah membayangkan pertemuan kita adalah yang terakhir kali. Bang hanya doa dariku, semoga Tuhan memberi kain ‘kafan’ surga buat abang, venny dan anak-anak. Venny aku pernah tuliskan puisi berjudul ‘senyum bulan’ buatmu, dimuat harian Serambi Indonesia, begini isinya: //Ada gundah berombak di dada/lambungkan harap pada sepucuk hati/tumpahkan sekian resah, gauli gelisah// ada gundah berombak di dada/ tiang mana ikatkan tali/ biar kapal dapat merapat melabuhkan rasa/ pendam dalam laut nurani// ada gundah berombak di dada/ ketika terik hari bergasing atas kepala/ o, jangan biarkan gerimis tempias ke wajah/ o, jangan biarkan nyeri membungkus luka/(mari jemput waktu lewat senyum di kening bulan)//. Ternyata engkau benar-benar tersenyum membawa hidup ini bersama puisi yang kutuliskan buatmu. Hanya ini yang mampu ku catat, maaf jika terlambat membahasakan catatan kegelisahanku ini. Setiap pulang ke Aceh selalu kutebarkan mawar dipusaramu seluas Aceh. Salam rindu dariku, selalu.

2 komentar:

budi art mengatakan...

Bang Soel yang baik,
Maafkan aku kalau, tiba-tiba aku menjadi "cengeng", menangis mambaca "Surat" ini, beribu kenangan terhadap Bang NU dan Kak Veni tiba-tiba bergejolak dalam dada ini. tak mampu aku cegah...., "surat ini menggugahku, mengenang seluruh perjalannku bersama bang nu, baik di Taman Budaya, bahkan saat perjalanan bersama membacakan pusi-puisi bang Nu di Sabang, Banda Aceh, Lhokseumawe, Medan.....hanya bermodal puisi itu kami bertahan hidup, bergelandang dari satu "terminal" ke terminal lainnya. Begitu pula Venni yang sangat aku kagumi dari lukisan-lukisan surialismenya. tiba-tiba aku terkenang lukisan putroe Nengnya yang begitu menginspirasi. atau likisan perempuan Aceh yang begitu cantik dan di dadanya ditumbuhi mawar yang merekah, berembun, sungguh indah....., tapi di mawar itu ada ulat yang merusak keindahan mawar, ah..... aceh. lukisan ini pula yang menginspirasi aku menulis puisi yang kuhadiahkan kepada Verse Venni, sayang aku hany ingat judulnya "Potret Surialisme" yang di muat di Serambi Indonesia. Maafkan aku atas "ketotolan keyakinanku saat itu bahwa karya yang telah aku lempar ke media bukan milikku lagi, karnanya aku kemudian tak pernah berusaha mengklipping seluruh tulisan yang pernah aku publikasi.....entahlah. Yang paling aku ingat saat itu venni dengan bangga menunjukkan klippingnya kepadaku dan puisiku itu dia letakkan dalam sebuah album....
Bang Soel yang baik maafkan aku atas kecenganku ini...., tapi didadaku tetap bergolak, seperti juga abang, untuk terus menelusuri jejak bang Nu...., tak hanya dunia kesenimannya, tapi juga akademiknya.

salam Adinda,

Budi Art

Unknown mengatakan...

Budi yang baik.

Ini hanya sebagaian kerinduanku kepada almarhum bang Nu dan Venny yang bahwasannya kita pernah bersama mengarungi aktifitas kesenian. aku kira beliau sangat-sangat luar biasa memberi kekuatan buat kita berproses kreatif dalam dunia seni di Awal, ketika awal-awal kita menancapkan kaki di dunia seni. Kini di rantau aku rindu juga kepada adik-adik yang berproses kreatif di sanggar Cempala Karya; aku rindu Budi, Ucok Kelana TB, Jarwansah, Hamzah Zaiby, Win Gemade, Mustafa Ismail, Deny Pasla, Ade Ibrahim Dy. Kampi dan seribu punggawa Cemapala lainnya. makanya aku dirikan Komunitas Kuflet di rantau sebagai benih kerinduanku buat seluruh anggota Cempala Karya; dimana mereka kini.