PADANGPANJANG-SUMATERA BARAT
Sekretariat: Jln. Bundo kanduang No.35 Padangpanjang HP.081393286671 Email:sjdoesy@gmail.com

Sabtu, 22 September 2007

M A T A

Cerita Pendek:

M A T A
Karya: Sulaiman Juned

Dalam perkenalan pertama itu, hati terasa bahagia dan damai oleh sorotan matamu yang membawa rasa kadangkala terlebur dalam untaian manik-manik keindahan. Aku percaya yang bahwasannya kasih adalah indah, sementara cinta anugerah yang memenuhi ruang pemikiran dan jiwa setiap yang bernama manusia. Kita pun terlahir dari dan atasnama cinta.
Setahun yang lalu, matamu telah meresap masuk ke dalam ronmgga kalbuku, pun telah meningalkan setetes embun di sana. Dari itu aku tak mau menjadi manusia yang munafik. Awalnya memang tak pernah kuduga, yang mana aku telah terkulai oleh tatapanmu yang memluluhkan kalbu. Hati memang pernah beku akan cinta, namun enhgkau mampu mencairkan kembali sehingga dawai-dawai cinta kembali berseri di jiwa.
Pertemuan, ya pertemuan itu membuat hasrat selalu bergelora agar dapat mengulanginya lagi. Sinar matamu yang bening selalu kutatap lekat-lekat dalam setiap sua, lalu kubawa pulang dan kutidurkan di atas pembaringan yang bersulam bungong jeumpa.
Kala itu, pada pertemuan yang terakhir segala niat tercurahkan oleh kata hati yang tak sanggup terbendung lagi.
“Iswanti, kesetiaanku janganlah engkau sangsikan lagi. Gunung akan kusapuh, lautan akan kuarungi dan lurah akan kuturuni demi sepotong kasihku padamu duhai mawarku” Ungkapku.
“Said, setiap titah yang telah engkau pahat pada merahnya kalbuku akan selalu kuingat” Jawabnya terharu.
Mulai saat itulah, kesetiaanku akan kasih sayang tak akan pernah luntur, walau diterpa ombak dan badai. Mata itu selalu melingkar dalam setiap jejak-jejak langkah yang tertinggal. Adalah suatu keharusan bagi diriku untuk mempertahankan rerimbunan alis yang bertengger indah di kening kekasih.
Mata adalah seperangkat kata yang tak pernah berkata-kata, namun sanggup memberikan berlaksa makna yang sangat berarti dalam sebuah perjalanan cinta. Mata itu pula yang telah mengintai gerak-gerik pelakonan kehidupan, sehingga perjalananku terhenti di sana, mungkin juga pemberhentian itu untuk selama-lamanya.
Mata dari setiap mata yang kutemui dalam aku menyisir rinai yang membawa kelam. Mungkin mata inilah yang mampu memberhentikan aku dalam tatapan yang menyakinkan. Mata itu pula memberikan seonggok keyakinan bagi diriku yang telah rapuh dalam mengarungi setiap belokan, pada mata yang terakhir ini pula akan tersembur suatu sinar yang agung. Sinar yang mematrikan sebuah kehidupan yang sederhana, itulah yang aku inginkan.
Dalam percakapan sejenak di gubuk tua milikku, satu-satunya peninggalan orang tuaku yang dapat aku banggakan, dia berkata.
“Said, perahu ini masih kosong, tak berpenghuni dari itu mampukah kita mendayungnya sampai ke batas tujuan” Desisnya.
Aku tidak menyangka pertanyaan itu akan meluncur dari bibirnya yang ranum. Aku merasa bangga atas ungkapan yang mengharubirukan hatiku.
“Iswanti, akan aku usahakan perahu itu sampai ke batas tujuan” Balasku mantap.
Saai itulah rasa dari segala rasa tertumpah, terlihat pada hitamnya bola mata beruntai manik-manik bening yang berjatuhan. Pun sang bungong jeumpa tersimpuh dalam pangkuanku.
“Is, mengapa menangis” Tanyaku.
“Aku menangis bukan karena sedih namun aku menangis karena bahagia. Kebahagian itu barangkali tak dapat aku ukirkan dengan kata-kata “ Jawabnya tersendat-sendat.
Kamipun kala itu sama-sama terbuai dalam kebahagia, tepian gubukku waktu itu riuh oleh pipit yang mendendangkan syair kerinduan. Aku terlelap dalam kerinduan bersama Iswanti kekasihku yang sangat aku dambakan. Mata-mata saling berbicara.
Tamat
(Banda Aceh/Ceka, 89)


















Catatan: Dipublikasikan di Penerbitan Warta Unsyiah
Nomor 5 Tahun V, Agustus 1990.

Tidak ada komentar: