PADANGPANJANG-SUMATERA BARAT
Sekretariat: Jln. Bundo kanduang No.35 Padangpanjang HP.081393286671 Email:sjdoesy@gmail.com

Sabtu, 22 September 2007

P U L A N G

Cerita Pendek:



P U L A N G


Karya: Sulaiman Juned



“Harap segera pulang” Begitulah kalimat yang tertera di telegram yang baru kuterima.

Seluruh persendian tulangku bagaikan lepas rasanya, kukuatkan diri untuk berdiri, mengumpulkan pakaian dan memasukkannya dalam rangsel usang.

“Amir, aku pulang ke kampung ya?” Tegasku.

“Koq pulang” Serunya heran.

“Aku dapat telegram” Jawabku singkat sambil berlalu pergi.

Amir adalah rekan kostku dan aku maklumi keheranannya. Betapa tidak, besok ujian semester genap mulai dilaksanakan, sementara aku tiba-tiba pulang ke kampung. Dalam bus pikiranku menerawang tak tentu arah. Semakin aku memikirkan apa gerangan yang terjadi di rumah keluarga besarku, jiwaku semakin keruh, renyuh. Aku adalah satu-satunya tumpuan keluarga yang kini sedang menyelesaikan kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Serambi Mekkah.

“Mereka tahu aku sedang ujian, tapi mengapa mereka mengharapkan aku kembali secepatnya tanpa memberitahu sebab musababnya. Ini pasti masalah yang sangat penting” Lirihku dalam hati.

Entah berapa lama aku berada dalam alam lamunan yang berkepanjangan. Yang kutahu bus telah berhenti di sebuah terminal, dan terdengar teriakan dari kondektur.

“Beureunuen…Beureunuen, ada yang turun” Serunya.

“Ah! Rupanya aku telah sampai” Lirihku dalam hati.


Perjalanan Banda Aceh menuju Beureunuen memakan waktu dua jam, dan berarti selama dua jam pula pikiranku menerawang entah kemana. Hampir saja aku kelewatan jikalau kondektur busnya tidak berteriak-teriak menanyakan tentang penumpang apa ada yang turun. Dari kota kecamatan itu aku naik ojek menuju kampung asalku, usi dayah. Sesampainya aku di rumah, adik dan ibu menyongsong kedatanganku tepat di depan pintu. Aku mencium tangan ibu serta memeluk adikku.

“Alhamdulillah, anakku telah kembali” Serunya gembira.

“Ada apa, bu?” Tanyaku gundah.

“Istirahatlah dulu, tentu kamu sangat lelah” Jawabnya.

Aku melangkah masuk dengan hati berdebar, dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku paksakan diri setenang mungkin. Kupandangi mata ibu yang berkaca-kaca, dan air bening mulai berjatuhan dari telaga mata yang mulai berkerut.

“Ada apa sebenarnya, bu?” Tanyaku tak sabar.

“Abimu, Asri”

“Kenapa dengan Abi?” Tanyaku lagi.

“Lihatlah” Jawabnya tersendat-sendat.

Bertambah resah dan gundah saat ibu mengatakan itu. Kulangkah kan kaki menuju ke kamar utama, disanalah kamar orang tuaku. Aku kuak daun pintu perlahan-lahan. Tak mau membangunkan Abi sebab kata Ibu beliau baru saja tertidur.

Jantungku berdetak keras saat kusapu ruang kamar dengan biji mataku, kulihat di sana terbaring sosok abi yang dulu tegap dan kekar, kini hanya tinggal kulit pembalut tulang. Dengan seulas senyum abi memandang ke arahku.

“Baru datang, nak?” Walaupun terbata-bata tapi masih terkesan berwibawa.

Beliau walaupun sakit keras tetap berusaha menyembunyikan rasa sakit, itu yang aku tangkap. Abiku memang manusia yang tidak pernah mau dikasihani oleh orang lain. Pernah suatu waktu Paman Ali bercerita pada saya, bahwasannya abi tulang keringnya pernah terkena tembakan pada masa perjuangan DI/TII di Aceh, tapi beliau tidak mau dipapah oleh anak buahnya. Dalam keadaan terluka beliau tetap mempertahankan wilayahnya di hutan lebat Tangse. Ah! Tak sanggup aku menjawab pertanyaannya yang meluluhkan kalbuku. Berhamburanlah air bening jatuh dipangkuanku.

“Jangan menangis anakku. Anak laki-laki pantang mengeluarkan air mata. Tabahkan hatimu, setiap yang sehat pasti sakit dan setiap yang hidup pasti mati. Maka dari itu janganlah gundah dan risau sebab tak ada manusia yang hidupnya kekal di atas dunia ini” Ujarnya.

Cinta dan kasih terhadap abi bertambah-tambah, dalam keadaan kurang sehat beliau masih mampu menasehati kami anaknya.

“Asri, apabila aku telah tiada, jagalah adik dan kakakmu ini. Kau harus mampu menjadi ayah bagi mereka” Pintanya.

Aku hanya mampu mengangguk. Kata-kata telah tersekat di kerongkonganku. Pesan abi itu sampai kini terngiang-ngiang di telinga, pikiran dan hatiku. Tepat pada tanggal 18 Mei 1990 abiku tercinta menghembuskan nafasnya yang terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah Sigli dan beliau menemui Tuhannya dengan damai.

“Ya, Allah hanya doa yang mampu kutaburkan setiap usai sembahyangku. Moga engkau damai disisiNya” Keluhku.

Kini sahlah sudah aku, abang, kakak dan adikku menjadi yatim. Aku berupaya keras agar adikku dapat kubimbing dan kubiayai hidup mereka. Semenjak itu hidupku mulai terbagi antara belajar dan mencari nafkah. Bicara soal harta memang lebih dari cukup apabila dihitung-hitung, namun harta kekayaan keluarga telah dicaplok oleh Pamanku. Sang Paman tanpa iba dan kasihan membiarkan kami hidup melarat dan sengsara sepeninggal abi.

Perusahaan yang dipimpin abi bersama kedua adiknya, kini rasanya tidak berguna bagi kami. Sementara abi menghadapIlahi, paman telah memperkosa hak kami, keluarga kami dianggap mengemis apabila datang ke perusahaan tersebut. Padahal perusahaan Kilang Padi itu ada juga berkat adanya saham dari abiku.

Sekarang harapan keluarga bertaut padaku dengan segala kemampuanku. Aku berusaha bangkit dengan menghidupi serta menyekolahkan adik-adikku satu-satunya. Masalah di perusahaan memang aku juga berusaha untuk menuntut hak kami, bukan mengemis. Semoga paman dapat terbuka kalbunya dan mengerti tentang hukum setidaknya sehingga tidak serakah dan tidak memakan hak kami anak yatim yang seharusnya beliau rawat dan jaga. Kini, hanya pada Allah aku mengadu kegelisahan, kegetiran, kelukaan yang sangat dalam dan aku berharap paman akan berubah. Namun penantian panjang sia-sia adanya, betapa tidak sikap dan prilaku paman masih seperti sediakala, bak harimau buas memangsai harta perusahaan tanpa memikirkan kami sudah yatim.

“Siapapun tak berhak untuk mengambil harta ini, kini akulah yang berkuasa” Ujar pamanku dengan suara lantang.

Aku hanya termenung, memikirkan kelangsungan hidup keluarga yang bertambah melarat, sepeninggal abi tercinta. Pernah juga aku mendengar isu dari orang kampung, istri pamanku pernah menyampaikan maklumat bahwasannya kilang padi yang sekarang dikuasai suaminya telah sah menjadi milik suaminya, karena saham kami telah dikembalikan oleh suaminya. Luar biasa memang keserakahan keluarga pamanku terhadap harta. Paman, Makcik, dan anak-anaknya telah bersekongkol untuk melenyapkan harta benda milik perusahaan menjadi milik pribadi. Mobil, ruko, sawah yang di beli dengan uang perusahaan Paman menjual semuanya dengan dalih membayar tunggakan bunga Bank. Namun kenyataannya mereka membeli sawah, mobil dan membangun rumah dengan uang tersebut yang secara otomatis sertifikatnya menjadi milik mereka. Licik!

“Ah! Dasar manusia rakus, tiada terbetik sedikit pun iba di kalbunya. Dalam isi kepala mereka semata-mata harta” Lirihku dalam hati.

Semenjak itu pula aku tak pernah lagi datang ke perusahaan orangtuaku yang kini diambil alih oleh pamanku. Hanya mengandalkan uang sebagai kuli tinta aku bertahan hidup. Aku memang bersyukur karena diberikan kelebihan, aku mulai rajin menulis puisi, cerpen, artikel, kolom, esai yang kukirim ke beberapa surat kabar dan majalah baik lokal maupun nasional, dari pekerjaan menulis itulah aku bertahan hidup selain mengandalkan gaji sebagai wartawan di sebuah surat kabar Aceh.

Tahun 1995, aku mempersunting seorang dara berdarah Jawa-Aceh. Namun sayang semenjak itu pula aku berhenti sebagai wartawan, pekerjaanku total menjadi seniman dan pegawai honorer di Kanwil DEPDIKBUD D. I. Aceh. Emak sering mengajar aku tentang keikhlasan.

“Harta dapat di cari selagi kita masih sehat lahir dan batin. Bila pamanmu benar-benar mau menghilangkan hak kita, biarkan saja. Serahkan semuanya kepada Allah, beliau yang maha mengetahui. Tanpa bantuan dari pamanmu toh kita juga masih hidup” Ujar Emak ketika aku pulang kampung dari Banda Aceh suatu sore.

“Benar, mak. Namun harta itu kan hak kita, jadi kita wajib menuntutnya” Jawabku.

“Iya, tetapi pamanmu menganggap kita tak berhak lagi. Biarkan saja Tuhan yang membalas segalanya. Yakinlah, biar miskin harta tapi kita kaya hati, dan apabila memakan sesuatu yang bukan haknya sepanjang hidup tidak akan selamat” Pesannya.

Aku memang pernah ingin membawa masalah ini ke pengadilan. Namun setelah berdialog dengan Emak, kuurungkan niat itu. Aku menafkahi diriku dengan menulis, dan berteater. Setiap bulan Sanggar yang kupimpin mengisi acara sinetron dan fragment di TVRI Stasiun Banda Aceh, dari kegiatan seperti itulah aku menghidupi keluarga. Sehingga pada tahun 1997 aku berniat memperdalam ilmu tentang teater. Maka hijrahlah aku ke PadangPanjang Sumatera Barat dan menjadi mahasiswa pertama di Jurusan Teater STSI Padangpanjang. Istri aku titip sama mertua di Banda Aceh, dan setiap semester aku pulang. Beruntung aku punya mertua yang sangat mengerti keadaan dan profesiku.

Sekian waktu jadi mahasiswa. Awal tahun 2002 aku lulus dengan yudisium Cumlaude. Aku bahagia dan bangga, yang paling aku syukuri atas kebahagian itu karena pada tahun itu pula diterima menjadi dosen tetap di almamaterku. Bahagia, senang termasuk Emakku dan keluarga besar kami. Mereka bahagia karena akulah satu-satunya di dalam keluarga yang menjadi Pegawai Negeri Sipil dengan profesi Dosen lagi. Mengetahui hal ini, pamanku beserta keluarganya semakin iri, dan dengki terhadap keluarga kami.

Nopember 2004, merupakan masa yang paling menyedihkan, kelu, sakit karena satu-satunya orang tua kami, Emak meninggal dalam tenang di kampung tercinta, sebulan sebelum gempa dan tsunami. Aku sedikit gamang, betapa tidak. Aku ingin membahagiakan Emak dengan segala apa yang pernah diberikannya kepadaku. Ketika telah kudapatkan segalanya dan belum sempat memberi arti terhadap air susu yang diberikannya, diam-diam emak pergi. Kami telah menjadi yatim piatu, dan aku berharap paman akan berubah. Pamanku tetap tak berubah, hatinya mungkin terbuat dari batu. Beberapa waktu lalu, adikku menelponku, ketika aku sedang berada di Solo melanjutkan studi Pascasarjana.

“Kanda, tadi malam paman datang ke rumah, beliau meminta kebun kopi yang di Takengon di jual untuk beliau naik haji” Ungkap Adikku sambil menangis di telpon.

“Katakan sama paman, selesaikan dulu masalah Kilang Padi baru boleh di bagi kebun kopi di Takengon” Jawabku.

“Kami tidak berani, kanda..” Tukas adikku.

“Baiklah, biar aku tilpon Paman Sekarang” Aku putuskan tilpon genggamku, dan langsung ke wartel.












Dua jam aku berbicara dengan paman. Aku tidak melarang paman naik haji, silakan. Tetapi masalah kebun kopi yang menjadi biaya hidup buat adik dan kakakku yang masih menjadi tanggungjawab kami, tidak boleh di jual. Kebun kopi itu, memang kongsi dengan paman, ketika abiku masih berjualan di takengon. Jadi, kebun tersebut boleh di jual dengan syarat Kilang Padi harus diselesaikan, tidak boleh ada sangkut paut lagi. Harus jelas. Masak naik haji dengan meninggalkan seribu masalah di kampung, yaitu masalah harta, bereskan dulu segalanya baru berangkat. Sudah seusia itu pamanku belum berubah. Masih tetap serakah, masyaallah. Aku selalu berdoa semoga pamanku luluh hatinya, dan berkenan menyelesaikan seluruh masalah keluarga dengan sejelas-jelasnya. Bukankah kita kembali menghadap Ilahi hanya dengan secarik kain kafan dan amal semasa hidup, serta tidak membawa harta benda ke akhirat. Semoga Allah mendengar doa-doa hamba-Nya.


Tamat

(Banda Aceh-Solo, 1990-2006)

















Catatan: * Abi (Bahasa Aceh) = Ayah atau bapak.

** Dipublikasikan di Majalah Santunan, Aceh

April 1991.

Tidak ada komentar: